Ketika Tutorial Tidak Berjalan Seperti yang Diharapkan
Pada semester pertama, sebuah fakultas kedokteran menerapkan tutorial Problem Based Learning (PBL) sebagai salah satu metode pembelajaran utama. Setiap kelompok terdiri atas 8–10 mahasiswa dan didampingi oleh seorang tutor.
Dr. Andi adalah seorang dosen yang baru pertama kali menjadi tutor PBL. Ia telah membaca panduan tutorial dan memahami bahwa mahasiswa seharusnya menjadi pembelajar aktif, sementara tutor berperan sebagai fasilitator.
Pada pertemuan pertama sebuah kasus, Dr. Andi membuka diskusi dengan mengatakan:
“Baik, kita mulai. Silakan baca kasusnya, kemudian diskusikan.”
Mahasiswa mulai membaca trigger. Setelah beberapa menit, seorang mahasiswa mengatakan bahwa menurutnya diagnosis kasus tersebut adalah pneumonia. Mahasiswa lain langsung menyebutkan bakteri penyebab yang mungkin.
Dr. Andi kemudian bertanya:
“Kalau pneumonia, apa saja gejalanya?”
Diskusi berkembang menjadi sesi tanya jawab. Beberapa mahasiswa yang tampak lebih aktif mulai menjawab pertanyaan tutor. Mahasiswa lainnya lebih banyak diam.
Karena diskusi mulai melenceng, Dr. Andi beberapa kali mengarahkan:
“Jangan ke sana dulu.”
“Yang ini tidak perlu dibahas.”
“Coba fokus pada diagnosis.”
“Menurut saya, yang paling penting justru mekanisme penyakitnya.”
Setelah sekitar 30 menit, kelompok telah membahas cukup banyak hal. Dr. Andi merasa diskusinya berjalan baik karena mahasiswa dapat menyebutkan berbagai konsep yang berkaitan dengan kasus.
Namun, seorang mahasiswa mengatakan:
“Dok, sebenarnya kita harus mencari tahu apa dari kasus ini?”
Mahasiswa lain menambahkan:
“Saya merasa tadi kita banyak membahas hal, tetapi belum tahu apa yang harus kami pelajari.”
Dr. Andi kemudian membantu kelompok menyusun beberapa learning issues. Karena waktu hampir habis, ia memberikan beberapa petunjuk mengenai sumber belajar yang sebaiknya digunakan.
Pada pertemuan berikutnya, hanya sebagian mahasiswa yang benar-benar mempelajari learning issues. Beberapa mahasiswa datang dengan membawa informasi yang sangat rinci, tetapi tidak semuanya relevan dengan masalah dalam kasus. Diskusi kembali didominasi oleh tiga mahasiswa.
Salah satu mahasiswa yang biasanya diam akhirnya berkata:
“Kalau akhirnya tutor juga yang menentukan apa yang harus dipelajari, sebenarnya apa bedanya dengan kuliah biasa?”
Dr. Andi mulai bertanya-tanya:
Apakah tutorial tersebut sudah dapat disebut PBL?
Di sisi lain, ia juga memiliki kekhawatiran lain. Jika tutor terlalu sedikit berbicara, apakah mahasiswa benar-benar belajar? Jika tutor tidak meluruskan pembicaraan yang salah, apakah mahasiswa tidak akan membangun pemahaman yang keliru? Dan jika tutor tidak menguasai materi kasus, bagaimana ia dapat memastikan proses belajar tetap berada pada jalur yang benar?
Pertanyaan Pemantik Diskusi
1. Memahami PBL
- Apa yang sebenarnya ingin dicapai melalui tutorial PBL?
- Apa yang membedakan tutorial PBL dari kuliah, diskusi kelompok biasa, case discussion, atau seminar?
- Dalam skenario di atas, bagian mana yang sudah menunjukkan karakteristik PBL?
- Bagian mana yang justru membuat tutorial tersebut menjauh dari prinsip PBL?
2. Peran Tutor
- Menurut Anda, apa sebenarnya pekerjaan seorang tutor PBL?
- Kapan tutor sebaiknya bertanya?
- Kapan tutor perlu diam?
- Apakah tutor boleh memberikan jawaban?
- Apakah tutor harus selalu mengetahui jawaban terhadap semua pertanyaan mahasiswa?
- Bagaimana membedakan memfasilitasi diskusi dengan mengendalikan diskusi?
3. Manfaat PBL
Bayangkan fakultas Anda akan mempertahankan PBL meskipun metode ini membutuhkan waktu, tutor, ruang, dan persiapan yang lebih besar dibandingkan kuliah.
- Apa manfaat PBL yang membuat semua usaha tersebut layak?
- Apakah manfaat PBL terutama terletak pada penguasaan pengetahuan?
- Ataukah ada kemampuan lain yang ingin dikembangkan?
- Bagaimana PBL dapat membantu mahasiswa belajar menghadapi masalah klinis yang belum pernah mereka temui sebelumnya?
- Apakah mahasiswa yang mengikuti PBL otomatis menjadi self-directed learner?
4. Tantangan dan Pitfall
Dari pengalaman atau bayangan Anda sebagai tutor, apa yang mungkin terjadi jika:
- tutor terlalu aktif?
- tutor terlalu pasif?
- mahasiswa terlalu dominan?
- mahasiswa terlalu pasif?
- diskusi terlalu cepat menemukan diagnosis?
- mahasiswa sibuk mencari “jawaban yang benar” daripada memahami masalah?
- learning issues terlalu banyak?
- mahasiswa hanya membagi tugas pencarian literatur lalu melakukan copy-paste?
- diskusi berubah menjadi sesi kuliah mini?
- tutor lebih sibuk mengejar content daripada mengamati proses belajar?
- kelompok mengejar semua tujuan pembelajaran tetapi kehilangan hubungan dengan masalah pada trigger?
5. Pertanyaan yang Lebih Mendasar
Pada akhirnya, coba rumuskan bersama:
“Jika kita menghilangkan semua istilah dan prosedur PBL, sebenarnya pengalaman belajar seperti apa yang ingin kita ciptakan bagi mahasiswa melalui sebuah tutorial PBL?”
Dan pertanyaan terakhir:
“Apa yang harus dilakukan tutor agar mahasiswa benar-benar berpikir, bukan sekadar berbicara?”