Setelah menyelesaikan modul ini, mahasiswa diharapkan mampu:
Membedakan rinitis infeksius dari rinitis noninfeksius
Menjelaskan patofisiologi rinitis viral
Mengidentifikasi mikroorganisme penyebab yang umum (viral, bakterial, fungal)
Menjelaskan epidemiologi dan penularan virus penyebab common cold
Membedakan rinitis viral dari rinitis alergi dan rinosinusitis bakterial
Mengenali tanda bahaya (red flags) yang memerlukan pemeriksaan lanjutan atau rujukan
Memilih pemeriksaan penunjang yang tepat, mulai dari yang sederhana hingga molekuler
Menyusun tata laksana berbasis bukti yang memperhatikan prinsip antimicrobial stewardship
Memberikan edukasi pencegahan kepada pasien
Menyelesaikan kasus klinis bergaya USMLE
Kasus Klinis
Mahasiswa kedokteran, 20 tahun
Hidung tersumbat
Bersin-bersin
Rinore encer
Nyeri tenggorokan ringan
Gejala berlangsung 2 hari
Tidak demam
Teman-teman baru-baru ini mengalami keluhan serupa
Pertanyaan
Apa diagnosis yang paling mungkin?
Apa itu Rinitis?
Definisi
Inflamasi mukosa hidung yang ditandai dengan
Rinore
Hidung tersumbat
Bersin-bersin
Gatal pada hidung
Postnasal drip (pada sebagian kasus)
Rinitis dapat berupa
Infeksius
Alergi
Noninfeksius, nonalergi
Catatan
“Common cold” sebenarnya adalah rinitis infeksius akut (sering disebut rinofaringitis), karena faring dan kadang sinus serta konjungtiva juga sering terlibat.
Klasifikasi
Infeksius
Noninfeksius
Viral
Alergi
Bakterial
Vasomotor (idiopatik)
Fungal
Akibat obat (rinitis medikamentosa)
Hormonal (misalnya kehamilan)
Okupasional / iritan
Gustatorik
Atrofik
Epidemiologi & Beban Penyakit
Fakta seputar common cold
Dewasa: rata-rata 2–5 episode/tahun
Anak-anak: 6–8 episode/tahun, lebih sering pada anak yang bersekolah/di daycare
Insidens puncak: musim gugur dan musim dingin di daerah beriklim sedang; di Indonesia lebih terkait musim hujan dan perubahan cuaca
Penyebab utama absen sekolah dan kerja di seluruh dunia
Pendorong utama peresepan antibiotik yang tidak tepat
Mengapa bersifat musiman?
Kerumunan di dalam ruangan memudahkan penularan
Udara yang lebih sejuk dan kering diduga mendukung stabilitas virus serta kerentanan mukosa hidung
Rhinovirus lebih menyukai suhu mukosa hidung (~33°C)
Faktor Risiko Rinitis Infeksius yang Sering/Berat
Usia muda (imunitas belum matang, paparan lebih tinggi di daycare/sekolah)
Berbeda dengan influenza, rhinovirus menimbulkan kerusakan sitopatik yang minimal pada epitel. Sebagian besar gejala disebabkan oleh respons imun pejamu, bukan kerusakan langsung oleh virus — konsep penting untuk USMLE.
Respons Imun Pejamu
Imunitas innate
IL-1
IL-6
IL-8
TNF-α
Bradikinin dan kinin lain (berkontribusi pada nyeri tenggorokan dan nyeri)
IgA/IgG neutralisasi spesifik serotipe berkembang setelah infeksi
Menjelaskan mengapa reinfeksi dengan serotipe berbeda sering terjadi (proteksi silang minimal mengingat >160 serotipe)
Gejala
Temuan khas
Bersin-bersin
Hidung tersumbat
Rinore (awalnya encer/jernih, dapat mengental)
Tenggorokan gatal atau nyeri
Batuk ringan (sering muncul belakangan, dapat bertahan paling lama)
Malaise, sakit kepala ringan
Kadang demam subjektif derajat rendah (demam sesungguhnya lebih khas untuk influenza pada dewasa)
Umumnya
Afebris atau demam derajat rendah
Bersifat swasirna (self-limited)
Perjalanan Klinis
Hari
Temuan
1
Nyeri/gatal tenggorokan, bersin-bersin
2–3
Rinore encer, obstruksi hidung
3–4
Gejala puncak
4–6
Sekret dapat mengental dan berwarna kuning/hijau — ini bagian normal dari perjalanan penyakit viral, BUKAN bukti superinfeksi bakteri
7–10
Resolusi bertahap
Batuk
Dapat bertahan 1–3 minggu setelah gejala lain membaik
Peringatan
Kesalahpahaman umum di kalangan mahasiswa dan pasien: sekret hidung yang berwarna (kuning/hijau) tidak dengan sendirinya menandakan infeksi bakteri. Warna tersebut mencerminkan kandungan neutrofil dan sel epitel, dan merupakan hal yang diharapkan selama perjalanan normal common cold.
Diagnosis
Umumnya ditegakkan secara klinis — anamnesis dan pemeriksaan fisik sudah cukup
Tidak diperlukan pemeriksaan laboratorium atau pencitraan rutin
Pemeriksaan penunjang dipertimbangkan hanya pada
Penyakit berat atau atipikal
Pasien imunokompromais
Kecurigaan influenza atau COVID-19 (antigen cepat/PCR, terutama bila hasil akan mengubah tata laksana, misalnya kelayakan antiviral atau isolasi)
Investigasi epidemiologis / situasi wabah
Kecurigaan komplikasi (pencitraan bila dicurigai rinosinusitis bakterial dengan perluasan ke orbita/intrakranial)
Temuan pemeriksaan fisik
Mukosa hidung eritematosa, edematosa
Sekret jernih hingga mukopurulen
Faring sedikit hiperemis
Sinus normal atau nyeri tekan ringan (nyeri tekan fokal yang menetap merupakan tanda bahaya)
Pemeriksaan Laboratorium: dari Sederhana hingga Molekuler
Pendekatan bertingkat — dimulai dari yang paling sederhana dan hanya meningkat ke pemeriksaan lanjutan bila ada indikasi klinis yang jelas.
flowchart TD
A[Anamnesis + Pemeriksaan Fisik]
--> B{Tanda bahaya / atipikal?}
B -- Tidak --> C[Tidak perlu pemeriksaan penunjang]
B -- Ya --> D[Pemeriksaan sederhana di poliklinik]
D --> E[Pemeriksaan antigen cepat / serologi]
E --> F[Pemeriksaan molekuler / PCR]
F --> G[Kultur, histopatologi, pencitraan bila kecurigaan komplikasi berat]
1. Pemeriksaan Sederhana (Bedside/Poliklinik)
Rinoskopi anterior — menilai warna dan tekstur mukosa, karakter sekret, deviasi septum, polip, benda asing
Transiluminasi sinus — pemeriksaan kasar, sensitivitas rendah, jarang digunakan lagi secara klinis
Apusan sekret hidung (nasal smear) dengan pewarnaan Wright atau Hansel
Eosinofil dominan → mengarah ke rinitis alergi
Neutrofil dominan → mengarah ke proses infeksius (viral atau bakterial)
Pemeriksaan darah perifer lengkap (DPL)
Umumnya normal pada rinitis viral tanpa komplikasi
Leukositosis dengan neutrofilia dapat mendukung (namun tidak memastikan) proses bakterial
C-reactive protein (CRP) dan procalcitonin
Dapat membantu membedakan infeksi viral vs bakterial pada kasus meragukan, terutama sebelum memutuskan pemberian antibiotik pada rinosinusitis akut yang berat
Bukan pemeriksaan rutin untuk rinitis viral tidak berkomplikasi
2. Pemeriksaan Antigen Cepat (Rapid Test)
Rapid antigen test influenza — hasil cepat (~15 menit), sensitivitas moderat, spesifisitas tinggi; hasil negatif tidak menyingkirkan infeksi bila kecurigaan klinis tinggi
Rapid antigen test SARS-CoV-2 — digunakan bila gejala rinitis disertai kecurigaan COVID-19, terutama untuk keputusan isolasi
Rapid antigen test RSV — terutama pada bayi dan anak kecil dengan gejala saluran napas bawah menyertai
Kultur virus konvensional — jarang digunakan secara klinis karena lambat (berhari-hari) dan mahal; lebih berperan untuk riset dan surveilans
3. Pemeriksaan Molekuler
RT-PCR (Reverse Transcription PCR) — baku emas untuk deteksi virus RNA (influenza, RSV, SARS-CoV-2), sensitivitas dan spesifisitas tinggi
Dapat mendeteksi belasan patogen sekaligus (rhinovirus, coronavirus musiman, adenovirus, RSV, influenza A/B, parainfluenza 1–4, human metapneumovirus, SARS-CoV-2)
Berguna pada pasien rawat inap, imunokompromais, atau untuk keperluan pengendalian infeksi/kohort
Perlu diingat: rhinovirus dapat terdeteksi meski asimtomatik atau pasca-infeksi (durasi PCR positif bisa berminggu-minggu), sehingga hasil positif harus diinterpretasikan sesuai konteks klinis
Sekuensing genom — untuk surveilans strain influenza/ SARS-CoV-2 dan investigasi wabah, bukan untuk tata laksana kasus individual
4. Pemeriksaan Tambahan pada Kecurigaan Bakteri atau Komplikasi
Kultur dan sensitivitas dari aspirasi sinus (dilakukan oleh spesialis THT) — baku emas untuk rinosinusitis bakterial berat atau refrakter, bukan pemeriksaan lini pertama
Swab nasofaring untuk kultur bakteri — nilai diagnostik terbatas karena kolonisasi normal, jarang mengubah tata laksana
CT scan sinus paranasal — diindikasikan pada kecurigaan komplikasi (perluasan orbita/intrakranial), rinosinusitis kronis, atau sebelum tindakan bedah; bukan untuk diagnosis rinitis viral rutin
MRI — bila dicurigai komplikasi intrakranial atau infeksi fungal invasif dengan perluasan jaringan lunak
5. Pemeriksaan pada Kecurigaan Rinitis Fungal (Kegawatdaruratan)
Pemeriksaan KOH (potassium hydroxide) langsung dari jaringan nekrotik/eksudat — mencari hifa nonseptat bersudut lebar (khas Mucorales) atau hifa septat (khas Aspergillus)
Kultur jamur — konfirmasi spesies, namun hasil dapat memakan waktu dan sensitivitasnya terbatas pada mukormikosis
Histopatologi dengan pewarnaan khusus (GMS/PAS) dari biopsi jaringan nekrotik — baku emas untuk mukormikosis invasif, menunjukkan invasi vaskular oleh hifa
Pencitraan (CT/MRI) segera pada kecurigaan mukormikosis rinoserebral — evaluasi luas invasi sebelum debridemen bedah emergensi
Penting
Pada pasien diabetes tidak terkontrol/ketoasidosis atau imunokompromais berat dengan nyeri wajah dan eskar nekrotik hitam, jangan tunda biopsi dan konsultasi THT/bedah emergensi — keterlambatan diagnosis mukormikosis berkaitan dengan mortalitas tinggi.
Ringkasan Alur Pemeriksaan Penunjang
Tingkat
Contoh Pemeriksaan
Kapan Digunakan
Sederhana
Rinoskopi, apusan hidung, DPL, CRP
Kasus atipikal/red flag ringan
Antigen cepat
Rapid influenza, rapid COVID-19, rapid RSV
Kecurigaan patogen spesifik, keputusan isolasi/antiviral
Molekuler
RT-PCR, panel multipleks respiratori
Rawat inap, imunokompromais, surveilans
Kultur & histopatologi
Kultur sinus, kultur jamur, biopsi + GMS/PAS
Kecurigaan bakteri refrakter atau infeksi fungal invasif
Pencitraan
CT/MRI sinus
Kecurigaan komplikasi atau infeksi invasif
Kapan Harus Curiga Rinosinusitis Bakterial?
Tanda bahaya (kriteria IDSA) — salah satu dari:
Gejala ≥10 hari tanpa perbaikan
“Double worsening” — perbaikan awal diikuti perburukan gejala
Onset berat — demam tinggi (≥39°C) disertai sekret hidung purulen atau nyeri wajah selama ≥3–4 hari berturut-turut sejak awal sakit
Gambaran pendukung tambahan
Nyeri wajah unilateral atau nyeri gigi maksila
Bengkak periorbital
Sakit kepala yang memberat
Rinitis Viral vs Rinosinusitis Bakterial Akut
Ciri
Viral
Bakterial
Durasi
<10 hari, membaik
>10 hari, atau memburuk
Perjalanan
Membaik bertahap
Menetap atau “double worsening”
Sekret
Jernih → dapat mengental (normal)
Purulen menetap
Nyeri wajah
Ketidaknyamanan ringan
Nyeri terlokalisasi, sering unilateral
Demam
Tidak ada atau ringan
Dapat tinggi, terutama di awal
Tata laksana
Suportif
Antibiotik dapat diindikasikan
Rinitis Alergi vs Rinitis Infeksius
Ciri
Rinitis Alergi
Rinitis Infeksius (Viral)
Onset
Mendadak saat terpapar alergen; musiman atau perenial
Bertahap dalam 1–2 hari
Gatal
Menonjol (hidung, mata, palatum)
Minimal
Sekret
Jernih, encer
Jernih → dapat mengental
Demam
Tidak ada
Tidak ada atau ringan
Tanda penyerta
Allergic shiners, garis lipatan hidung, mata gatal
Nyeri tenggorokan, batuk, malaise
Mukosa hidung
Pucat, edematosa (boggy)
Eritematosa, edematosa
Durasi
Menetap selama paparan, dapat kronik
Swasirna, 7–10 hari
Apusan hidung
Eosinofil dominan
Neutrofil dominan
Diagnosis Banding
Rinitis alergi
COVID-19
Influenza
Rinosinusitis bakterial akut
Benda asing hidung (terutama unilateral, sekret berbau busuk pada anak)
Rinitis vasomotor
Rinitis medikamentosa (kongesti rebound akibat penggunaan dekongestan topikal berlebihan)
Rinore likuor serebrospinal (unilateral, jernih, dipengaruhi posisi, pasca-trauma atau operasi — periksa beta-2 transferrin bila dicurigai)
Populasi Khusus
Bayi dan anak kecil
Lebih rentan mengalami obstruksi hidung yang mengganggu proses menyusu/makan (bayi cenderung bernapas melalui hidung pada usia dini)
Tetes/irigasi salin dan suction lebih dipilih dibandingkan dekongestan
RSV dan parainfluenza lebih menonjol
Kehamilan
Rinitis kehamilan (hormonal) dapat terjadi bersamaan dengan rinitis infeksius — bedakan berdasarkan kronologi dan gejala penyerta
Agen pilihan: irigasi salin sebagai lini pertama; antihistamin/ dekongestan tertentu digunakan dengan hati-hati sesuai panduan obstetri
Pasien imunokompromais
Pertimbangkan patogen atipikal atau fungal (misalnya sinusitis fungal invasif pada pasien neutropenia atau ketoasidosis diabetik — kegawatdaruratan yang memerlukan evaluasi THT segera)
Ambang batas pemeriksaan dan pencitraan lebih rendah
Tata Laksana
Terapi suportif (tata laksana utama rinitis viral)
Istirahat dan hidrasi adekuat
Irigasi/semprot salin hidung
Analgetik dan antipiretik (parasetamol/NSAID) sesuai kebutuhan
Madu (pada anak >1 tahun) untuk meredakan gejala batuk
Agen simtomatik opsional
Dekongestan topikal (misalnya oksimetazolin) — batasi <3 hari untuk mencegah rinitis medikamentosa
Dekongestan oral (pseudoefedrin) — hati-hati pada hipertensi
Ipratropium bromida intranasal untuk rinore
Antihistamin generasi pertama dapat sedikit mengurangi bersin/ rinore (efek antikolinergik), namun menyebabkan sedasi
Lozenges/semprot zinc — bukti masih beragam; semprot zinc intranasal berisiko anosmia, umumnya tidak direkomendasikan
Antibiotik?
TIDAK — bukan untuk rinitis viral tidak berkomplikasi
❌ Antibiotik TIDAK mempersingkat durasi atau mengurangi beratnya penyakit
Potensi bahaya penggunaan yang tidak tepat
Resistensi antimikroba
Efek samping (gangguan GI, reaksi alergi, risiko C. difficile)
Biaya yang tidak perlu
Memperkuat ekspektasi pasien untuk mendapat antibiotik pada common cold berikutnya
Antibiotik diindikasikan bila kriteria rinosinusitis bakterial sesungguhnya terpenuhi (lihat tanda bahaya), biasanya amoksisilin-klavulanat sebagai lini pertama sesuai panduan IDSA.
Komplikasi
Umumnya jarang, namun meliputi:
Rinosinusitis bakterial akut
Otitis media (terutama pada anak, akibat disfungsi tuba eustachius)
Eksaserbasi asma
Infeksi saluran napas bawah (bronkitis, pneumonia), lebih sering terjadi pada influenza, RSV, atau pejamu rentan
Rinitis medikamentosa (akibat penggunaan dekongestan berlebihan — iatrogenik)
Jarang: sinusitis fungal invasif pada pasien imunokompromais (kegawatdaruratan)
Pencegahan & Edukasi Pasien
Kebersihan tangan yang sering (sabun dan air, atau hand sanitizer berbasis alkohol)
Hindari menyentuh mata, hidung, mulut
Etika batuk/bersin (tutup dengan siku, bukan tangan)
Disinfeksi permukaan yang sering disentuh
Hindari kontak erat dengan orang bergejala bila memungkinkan
Vaksinasi influenza tahunan mengurangi penyakit terkait influenza (tidak mencegah common cold akibat rhinovirus)
Belum ada vaksin rhinovirus akibat keragaman serotipe yang tinggi
Edukasi pasien bahwa kembali bekerja/sekolah wajar dilakukan setelah bebas demam dan gejala membaik; tidak perlu menunggu sembuh total untuk common cold biasa
Pearl untuk USMLE
Tip
Rhinovirus = Picornavirus
RNA rantai positif
Tidak berselubung
Labil terhadap asam
Replikasi optimal pada suhu 33°C
Menggunakan ICAM-1 sebagai reseptor mayor
Gejala mencerminkan respons sitokin pejamu, bukan sitotoksisitas virus
Common cold ≠ Influenza (bandingkan beratnya gejala dan kecepatan onset)
Sekret berwarna saja TIDAK menandakan infeksi bakteri
Rinosinusitis bakterial: >10 hari, double worsening, atau onset berat ≥3–4 hari
Seorang mahasiswa berusia 19 tahun datang dengan keluhan hidung tersumbat, rinore encer, dan bersin-bersin selama dua hari. Suhu tubuh normal.
Patogen yang paling mungkin?
A. Virus influenza
B. Rhinovirus
C. Streptococcus pneumoniae
D. Haemophilus influenzae
E. Aspergillus
Jawaban
B. Rhinovirus
Presentasi klasik
Penyakit ringan
Durasi singkat
Afebris
Common cold
USMLE Soal 2
Gejala berlangsung selama 12 hari.
Pasien kini mengalami
Sekret purulen
Nyeri wajah
Demam
Diagnosis selanjutnya?
A. Rinitis alergi
B. Rinitis viral
C. Sinusitis bakterial akut
D. COVID-19
Jawaban
C
Gejala menetap
10 hari
disertai perburukan
mengarahkan pada
Sinusitis bakterial akut
USMLE Soal 3
Mediator imun mana yang paling berperan dalam obstruksi hidung selama rinitis viral?
A. IgE
B. Histamin saja
C. Inflamasi yang dimediasi sitokin
D. Defisiensi komplemen
Jawaban
C
Sebagian besar gejala disebabkan oleh
Respons inflamasi pejamu
bukan kerusakan langsung oleh virus.
USMLE Soal 4
Seorang bayi berusia 6 bulan datang dengan hidung tersumbat, demam derajat rendah, dan mengi. Pada pemeriksaan ditemukan mengi ekspirasi difus dan retraksi subkostal ringan.
Patogen yang paling mungkin?
A. Rhinovirus
B. Respiratory syncytial virus
C. Adenovirus
D. Streptococcus pneumoniae
Jawaban
B. Respiratory Syncytial Virus
RSV merupakan penyebab tersering bronkiolitis pada bayi dan sering diawali dengan gejala rinitis yang berkembang menjadi keterlibatan saluran napas bawah (mengi, retraksi) pada kelompok usia ini.
USMLE Soal 5
Seorang pasien diabetes berusia 45 tahun dengan kontrol buruk dan ketoasidosis mengalami nyeri wajah, eskar nekrotik hitam pada konka nasal, dan bengkak periorbital.
Diagnosis yang paling mungkin?
A. Rinitis viral
B. Rinitis alergi
C. Mukormikosis (sinusitis fungal invasif)
D. Sinusitis bakterial akut
Jawaban
C. Mukormikosis
Infeksi fungal angioinvasif yang klasik ditemukan pada ketoasidosis diabetik dan pasien imunokompromais. Eskar nekrotik hitam merupakan temuan khas. Ini merupakan kegawatdaruratan bedah dan medis yang memerlukan debridemen segera serta terapi antifungal (amfoterisin B).
Ringkasan Poin Penting
Rhinovirus adalah penyebab tersering rinitis infeksius.
Gejala disebabkan oleh inflamasi yang dimediasi sitokin, bukan sitotoksisitas langsung virus.
Penyakit bersifat swasirna (7–10 hari); batuk dapat bertahan lebih lama.
Diagnosis ditegakkan secara klinis; pemeriksaan penunjang hanya pada skenario tertentu.
Sekret berwarna saja bukan penanda infeksi bakteri.
Pendekatan penunjang bertingkat: sederhana → antigen cepat → molekuler (PCR/panel multipleks) → kultur/histopatologi/ pencitraan sesuai indikasi.
Antibiotik TIDAK diindikasikan untuk rinitis viral tidak berkomplikasi.
Gejala >10 hari, double worsening, atau onset berat mengarahkan ke rinosinusitis bakterial.
Rinitis fungal (mukormikosis) jarang namun merupakan kegawatdaruratan sesungguhnya pada pasien imunokompromais/ diabetes.
Pencegahan berpusat pada kebersihan tangan dan etika pernapasan.
Pesan Kunci
✓ Rinitis viral adalah infeksi saluran napas atas tersering.
✓ Terapi suportif merupakan tata laksana utama.
✓ Hindari antibiotik yang tidak perlu — terapkan kriteria tanda bahaya IDSA.
✓ Pahami perbedaan antara rinitis viral, rinitis alergi, dan rinosinusitis bakterial.
✓ Kenali pendekatan pemeriksaan penunjang bertingkat, dari sederhana hingga molekuler.
✓ Kenali populasi khusus dan komplikasi berat yang jarang namun berbahaya (sinusitis fungal invasif).
Referensi
Harrison’s Principles of Internal Medicine, edisi ke-22.
Mandell, Douglas, and Bennett’s Principles and Practice of Infectious Diseases.
CDC Upper Respiratory Infection Guidelines.
IDSA Clinical Practice Guideline for Acute Bacterial Rhinosinusitis in Children and Adults.
Fokkens WJ, dkk. European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyps (EPOS).