Metodologi Penelitian Bidang Kedokteran dan Kesehatan untuk S1

Mohammad Rizki

FKIK Universitas Mataram

2026-07-20

1 - Mengapa Metodologi Penelitian Penting Dilatihkan di Mahasiswa S1?

Membangun fondasi budaya ilmiah

Cara Pandang

Tanpa metodologi penelitian…

❌ Mahasiswa memposisikan diri sebagai konsumen ilmu.

❌ Kemerdekaan berpikir menjadi lebih terbatas.

❌ Tidak peka terhadap fenomena yang perlu respons ilmiah.

Sense of data kurang terasah.

Dengan metodologi penelitian…

✅ Mahasiswa tahu bagaimana berkontribusi ilmiah sejak dini.

✅ Terbiasa berpikir objektif sesuai fakta ilmiah.

✅ Merespons masalah secara ilmiah.

✅ Menghargai data sebagai sumber ilmu potensial.

Penelitian bukan sekadar syarat kelulusan

Mahasiswa belajar untuk mampu:

  • menjawab pertanyaan ilmiah secara sistematis
  • mengambil keputusan berdasarkan bukti
  • berpikir kritis
  • mengevaluasi literatur
  • menyusun argumen yang logis
  • memecahkan masalah kesehatan

Tujuan akhirnya bukan menghasilkan skripsi, tetapi menghasilkan scientific thinking.

Mengapa perlu dibimbing?

  • KTI S1 memiliki keterbatasan waktu (umumnya 1 semester)

  • Mahasiswa bisa jadi belum berpengalaman merancang penelitian

  • Banyak proposal gagal karena metode terlalu ambisius atau tidak feasible

  • Pembimbing berperan sentral dalam menyelaraskan ide dengan kemampuan pelaksanaan

  • Latihan meneliti merupakan cara paling direkomendasikan

Hal yang Umum Ditemukan pada KTI Tingkat Sarjana

Aspek Karakteristik Umum
Waktu Terbatas (3–6 bulan efektif)
Dana Minim, sering swadana
Akses data Terbatas pada jejaring institusi pendidikan
Kompetensi statistik Dasar–menengah
Bimbingan etik Perlu proses kaji etik yang sering memakan waktu
Luaran Seringkali unpublished


Penting

Pembimbing menekankan bahwa tujuan KTI S1 adalah pembelajaran metodologi dengan mendorong bahwa kontribusi ilmiahnya pun sudah dapat bermakna.

2 - Bekal Metodologi Pembimbing KTI

Kemampuan pembimbing KTI dalam melatihkan metodologi penelitian

Poin-poin Melatihkan Metodologi Penelitian

1

Ragam metode

Memahami karakteristik berbagai metode penelitian yang realistis untuk KTI mahasiswa S1 kedokteran dan kesehatan.

2

Kelayakan metode

Menilai kelayakan suatu metode penelitian berdasarkan pertanyaan penelitian, waktu, biaya, sumber daya, dan aspek etik.

3

Pemilihan metode

Mengarahkan kesesuaian metode dengan masalah yang hendak dijawab.

4

Merancang metode

Mengidentifikasi kesalahan umum dalam penyusunan metodologi penelitian mahasiswa.

5

Menjalankan metode

Memberikan arahan dan kiat mengeksekusi rancangan yang telah dibuat.

6

Umpan balik metode

Memberikan umpan balik yang konstruktif terhadap rancangan metodologi sejak tahap proposal hingga pasca pelaksanaan.

Kriteria Memilih Metode yang Tepat

  1. Relevansi — menjawab pertanyaan/masalah penelitian
  2. Feasibility — dapat dilaksanakan dalam waktu & sumber daya yang ada
  3. Kelayakan etik — risiko rendah, mudah memperoleh persetujuan
  4. Kesesuaian kompetensi — sesuai kemampuan analisis mahasiswa
  5. Ketersediaan data/subjek — populasi/sampel dapat diakses

3 - Klasifikasi Metode Penelitian

Pengenalan singkat tentang ragam metode penelitian dan strategi melatihkannya

Hierarki Berpikir dalam Memilih Metode

Klasifikasi metode penelitian berlapis — kadang mahasiswa tertukar levelnya:

Level Dasar Klasifikasi Contoh Kategori
1. Pendekatan Jenis data & paradigma Kuantitatif, Kualitatif, Mixed-Method
2. Tujuan Apa yang ingin dicapai Deskriptif, Analitik/Eksplanatif
3. Ada/tidaknya intervensi Peran peneliti terhadap subjek Observasional, Eksperimental
4. Waktu pengambilan data Kapan data diambil Cross-sectional, Longitudinal
5. Arah penelusuran Prospektif vs retrospektif Kohort, Case-control

Penting

Urutan berpikir: tentukan dulu pendekatan (kuantitatif/kualitatif/mixed), baru turun ke tujuan, lalu ke desain spesifik.

Pendekatan

Kekuatan tiap pendekatan dapat menjadi topik awal diskusi pemilihan metode

📚 Kuantitatif

  • Prosedur relatif terstruktur dan familiar dari kurikulum metodologi penelitian S1
  • Banyak template analisis (uji-t, korelasi, regresi, chi-square) yang sudah diajarkan
  • Waktu pengolahan data umumnya dapat diprediksi

📋 Kualitatif

  • Sangat sesuai untuk topik yang sulit diukur secara numerik (persepsi, pengalaman, hambatan psikososial)
  • Tidak selalu memerlukan sampel besar
  • Melatih kemampuan komunikasi dan analisis kontekstual yang bernilai klinis

📝 Mixed-Method

  • Memberi gambaran yang lebih kaya dan komprehensif,
  • Sangat relevan untuk topik pendidikan kedokteran, perilaku kesehatan, atau evaluasi intervensi

💡 Pendekatan adalah jembatan awal antara masalah yang diajukan dan cara memperoleh jawaban ilmiah secara efektif dan efisien.

Pendekatan Kuantitatif

Esensi: mengukur variabel secara numerik dan menguji hubungan/perbedaan secara statistik (paradigma positivistik)

Ciri: instrumen terstandar, sampel dihitung, analisis statistik inferensial/deskriptif

Kekuatan untuk KTI S1:

  • Prosedur relatif terstruktur dan familiar dari kurikulum metodologi penelitian S1
  • Banyak template analisis (uji-t, korelasi, regresi, chi-square) yang sudah diajarkan
  • Waktu pengolahan data umumnya dapat diprediksi

Konstrain yang dihadapi mahasiswa: perhitungan besar sampel yang tepat, akses ke populasi yang representatif, dan penguasaan software statistik — perlu bimbingan aktif, namun bukan penghalang bila direncanakan dengan baik

Pendekatan Kualitatif

Esensi: memahami makna, pengalaman, atau fenomena secara mendalam melalui data non-numerik (paradigma interpretatif/konstruktivis)

Ciri: wawancara mendalam, FGD, observasi partisipatif; analisis tematik/isi; jumlah partisipan kecil namun mendalam

Kekuatan untuk KTI S1:

  • Sangat sesuai untuk topik yang sulit diukur secara numerik (persepsi, pengalaman, hambatan psikososial)
  • Tidak selalu memerlukan sampel besar
  • Melatih kemampuan komunikasi dan analisis kontekstual yang bernilai klinis

Konstrain yang dihadapi mahasiswa: memerlukan waktu untuk transkripsi & koding, keterampilan wawancara, dan kepekaan reflektif peneliti — tetap feasible bagi mahasiswa yang berminat dan mendapat bimbingan metodologi kualitatif yang memadai; jangan diarahkan menjauh hanya karena dianggap “sulit”

Pendekatan Mixed-Method (Metode Campuran)

Esensi: mengombinasikan data kuantitatif dan kualitatif dalam satu penelitian untuk saling melengkapi

Desain umum:

  • Sequential explanatory — kuantitatif dulu, lalu kualitatif untuk memperdalam temuan
  • Sequential exploratory — kualitatif dulu untuk eksplorasi, lalu kuantitatif untuk menguji/generalisasi
  • Convergent (paralel) — kuantitatif dan kualitatif dikumpulkan bersamaan lalu dibandingkan

Kekuatan untuk KTI S1: memberi gambaran yang lebih kaya dan komprehensif, sangat relevan untuk topik pendidikan kedokteran, perilaku kesehatan, atau evaluasi intervensi

Konstrain yang dihadapi mahasiswa: beban kerja lebih besar (dua jenis pengumpulan & analisis data) dan menuntut penguasaan dua paradigma sekaligus — memerlukan perencanaan waktu yang matang dan koordinasi bimbingan yang lebih intensif, namun tetap dapat dilakukan oleh mahasiswa dengan motivasi tinggi, manajemen waktu baik, dan dukungan pembimbing yang konsisten

Ragam Desain dalam Pendekatan Kuantitatif

1. Studi Observasional — Cross-sectional

Karakteristik: pengukuran variabel dilakukan sekali dalam satu waktu

  • Cocok untuk meneliti prevalensi atau hubungan antar-variabel
  • Relatif cepat dan murah
  • Contoh topik: hubungan tingkat stres dengan IPK mahasiswa; prevalensi anemia pada ibu hamil di puskesmas

Kelebihan: cepat, logistik sederhana Keterbatasan: tidak dapat menentukan hubungan sebab-akibat

2. Studi Observasional — Case-Control

Karakteristik: membandingkan kelompok kasus vs kontrol, ditelusuri mundur (retrospektif)

  • Cocok untuk penyakit/kejadian yang jarang
  • Efisien dari segi waktu karena tidak perlu follow-up

Kelebihan: efisien untuk outcome langka Keterbatasan: rentan recall bias, perlu keterampilan memilih kontrol yang tepat — sering menyulitkan mahasiswa S1

3. Studi Observasional — Kohort

Karakteristik: mengikuti kelompok terpapar dan tidak terpapar dari waktu ke waktu

  • Dapat retrospektif (memakai data rekam medis) atau prospektif

Kelebihan: lebih kuat menunjukkan hubungan temporal Keterbatasan: kohort prospektif kurang feasible untuk KTI S1 karena keterbatasan waktu — arahkan ke kohort retrospektif berbasis data sekunder bila memungkinkan

4. Studi Deskriptif

Karakteristik: menggambarkan karakteristik suatu fenomena tanpa menguji hubungan

  • Contoh: gambaran pola peresepan antibiotik, karakteristik pasien DM tipe 2 di poliklinik

Kelebihan: desain paling sederhana, sangat sesuai untuk pemula Keterbatasan: nilai ilmiah dianggap “rendah” oleh sebagian penguji — perlu dikuatkan dengan analisis yang tajam dan interpretasi kontekstual

5. Studi Berbasis Data Sekunder / Rekam Medis

Karakteristik: memanfaatkan data yang sudah tersedia (rekam medis, database rumah sakit, register nasional)

  • Tidak memerlukan pengambilan data primer ke pasien langsung
  • Sangat efisien waktu

Kelebihan: hemat waktu & biaya, risiko etik lebih rendah Keterbatasan: kualitas data bergantung kelengkapan rekam medis; perlu akses & izin institusi

6. Studi Eksperimental Skala Kecil

Karakteristik: memberikan intervensi dan mengamati efeknya (in-vitro, in-vivo, atau eksperimen semu pada manusia)

  • Contoh: uji aktivitas antibakteri ekstrak tanaman, efektivitas modul edukasi terhadap pengetahuan

Kelebihan: melatih kemampuan menguji hipotesis secara terkontrol Keterbatasan: memerlukan fasilitas laboratorium, waktu, dan proses etik yang lebih panjang — perlu dipastikan feasibility sejak awal, namun sangat mungkin bila fasilitas sudah tersedia di institusi

Ragam Desain dalam Pendekatan Kualitatif

7. Studi Kualitatif Sederhana

Karakteristik: eksplorasi persepsi, pengalaman, atau makna melalui wawancara/FGD

  • Contoh: persepsi mahasiswa terhadap pembelajaran daring, pengalaman keluarga merawat pasien kronis

Kelebihan: menggali aspek yang tidak terukur secara kuantitatif Keterbatasan: analisis tematik memerlukan waktu & keterampilan; jumlah informan kecil tetap butuh kedalaman, bukan sekadar transkrip — tetap layak dipilih bila mahasiswa dibimbing menyusun pedoman wawancara dan skema koding sejak awal

Ragam Desain dalam Pendekatan Mixed-Method

8. Studi Mixed-Method Sederhana

Karakteristik: menggabungkan pengukuran kuantitatif dengan eksplorasi kualitatif dalam satu KTI

  • Contoh: survei kepuasan pasien (kuantitatif) diperdalam dengan wawancara pada beberapa responden (kualitatif) untuk menjelaskan skor rendah/tinggi
  • Umumnya memakai desain sequential explanatory karena paling mudah dikelola dalam satu semester

Kelebihan: hasil lebih kaya, temuan kuantitatif mendapat konteks dan penjelasan Keterbatasan: beban kerja ganda dan menuntut manajemen waktu ketat — feasible untuk mahasiswa dengan motivasi tinggi dan bimbingan yang konsisten sejak proposal; bukan pilihan yang harus dihindari secara default

Desain Lintas-Pendekatan

9. Tinjauan Pustaka Sistematis (Systematic Review) Sederhana

Karakteristik: merangkum bukti dari literatur dengan metode pencarian dan seleksi yang terstruktur

  • Dapat bersifat kuantitatif (mis. meta-analisis sederhana) maupun kualitatif (mis. tinjauan naratif/tematik) — pendekatannya tergantung jenis data yang disintesis
  • Cocok bila akses subjek/data primer sulit
  • Perlu protokol pencarian yang jelas (PICO, PRISMA)

Kelebihan: tidak memerlukan pengumpulan data lapangan Keterbatasan: menuntut kemampuan penelusuran literatur & sintesis yang baik — perlu bimbingan intensif agar tidak sekadar merangkum

Ringkasan Perbandingan Metode

Pendekatan Metode Waktu Biaya Kompleksitas Etik Catatan Feasibility untuk S1
Kuantitatif Cross-sectional Cepat Rendah Rendah Sangat sesuai untuk pemula
Kuantitatif Case-control Sedang Rendah–Sedang Sedang Sesuai dengan bimbingan pemilihan kontrol
Kuantitatif Kohort retrospektif Sedang Rendah Sedang Sesuai bila data sekunder tersedia
Kuantitatif Deskriptif Cepat Rendah Rendah Sangat sesuai untuk pemula
Kuantitatif Data sekunder Cepat Rendah Rendah Sangat sesuai, efisien waktu
Kuantitatif Eksperimental skala kecil Lama Sedang–Tinggi Tinggi Feasible bila fasilitas lab tersedia
Kualitatif Kualitatif sederhana Sedang Rendah Sedang Feasible dengan bimbingan wawancara & koding
Mixed-method Mixed-method sederhana Lama Sedang Sedang–Tinggi Feasible bagi mahasiswa bermotivasi tinggi dengan bimbingan intensif
Lintas-pendekatan Systematic review sederhana Sedang Rendah Rendah Sesuai bila kemampuan telaah literatur cukup

4 - Pertimbangan Praktis dalam Pembimbingan

Memberikan umpan balik konstruktif

Aspek Kelayakan yang Perlu Dicek Pembimbing

  • Apakah populasi/sampel tersedia dan dapat diakses dalam waktu studi?
  • Apakah besar sampel realistis dihitung dan dicapai?
  • Apakah proses kaji etik dapat selesai tepat waktu?
  • Apakah mahasiswa memiliki kemampuan analisis statistik yang dibutuhkan?
  • Apakah tersedia pembimbing/metodolog pendamping bila metode kompleks?

Kesalahan Umum yang Sering Ditemui

  • Memilih desain terlalu kompleks (mis. kohort prospektif, RCT) tanpa mempertimbangkan waktu
  • Pertanyaan penelitian tidak jelas, sehingga metode dipilih sebelum masalah dirumuskan
  • Besar sampel tidak dihitung atau tidak realistis
  • Mengabaikan kelayakan etik sejak awal perencanaan
  • Meniru metode penelitian senior tanpa menyesuaikan skala dengan kapasitas mahasiswa S1

Peran Dosen Pembimbing

  • Membantu mahasiswa merumuskan pertanyaan penelitian yang jelas dan terjangkau (feasible, interesting, novel, ethical, relevant — FINER)
  • Mengarahkan pemilihan desain sesuai kapasitas, bukan sekadar “yang paling ilmiah”
  • Mendorong konsultasi statistik/metodologi sejak tahap proposal
  • Memberi umpan balik bertahap, bukan hanya di akhir
  • Menjaga keseimbangan antara kualitas ilmiah dan keterlaksanaan

Alur Diskusi Bersama Mahasiswa

  1. Identifikasi masalah dan tinjau literatur awal
  2. Rumuskan pertanyaan penelitian (gunakan kerangka PICO/FINER)
  3. Diskusikan beberapa opsi desain yang mungkin
  4. Nilai bersama kelayakan tiap opsi
  5. Sepakati desain final & susun timeline realistis

Penutup

  • Metode penelitian terbaik untuk KTI S1 adalah metode yang feasible, etis, dan menjawab pertanyaan penelitian — bukan yang paling rumit
  • Pembimbing berperan menjaga keseimbangan antara ambisi ilmiah dan realita pelaksanaan
  • Bimbingan sejak tahap perumusan masalah akan mengurangi revisi besar di kemudian hari

Bacaan Menarik

Alele, F., & Malau-Aduli, B. (2023). An Introduction to Research Methods for Undergraduate Health Profession Students. James Cook University. https://doi.org/10.25120/fh2z-yva8

Burgoyne, L. N., O’Flynn, S., & Boylan, G. B. (2010). Undergraduate medical research: The student perspective. Medical Education Online, 15(1), 5212. https://doi.org/10.3402/meo.v15i0.5212

Lee, G. S. J., Chin, Y. H., Jiang, A. A., Mg, C. H., Nistala, K. R. Y., Iyer, S. G., Lee, S. S., Chong, C. S., & Samarasekera, D. D. (2021). Teaching Medical Research to Medical Students: A Systematic Review. Medical Science Educator, 31(2), 945–962. https://doi.org/10.1007/s40670-020-01183-w

Mass-Hernández, L. M., Acevedo-Aguilar, L. M., Lozada-Martínez, I. D., Osorio-Agudelo, L. S., Maya-Betancourth, J. G. E. M., Paz-Echeverry, O. A., Paz-Echeverry, M. J., Castillo-Pastuzan, H. S., Rojas-Pimentel, J. C., & Rahman, S. (2022). Undergraduate research in medicine: A summary of the evidence on problems, solutions and outcomes. Annals of Medicine and Surgery, 74, 103280. https://doi.org/10.1016/j.amsu.2022.103280

Terima kasih