Penyamaan Persepsi Mentor EpidPK 1 & 2

Dari Fenomena Kesehatan Menuju Evidence dan Rencana Penelitian

Tim EpidPK

2026-09-02

Penyamaan Persepsi Mentor

EpidPK 1 & EpidPK 2

Satu standar — banyak mentor — pengalaman belajar yang tetap setara

Mengapa perlu penyamaan persepsi?

Dengan cohort besar, variasi mentor dapat menghasilkan variasi:

  • intensitas bimbingan;
  • standar kualitas;
  • cara memberi feedback;
  • toleransi terhadap kesalahan;
  • severity saat memberi skor.

Tujuan sesi ini bukan membuat semua mentor berpikir identik.
Tujuannya adalah memastikan semua mahasiswa dinilai dengan standar capaian yang sama.

Empat hal yang harus sama

  1. Apa yang harus dicapai mahasiswa
  2. Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan mentor
  3. Evidence apa yang dinilai
  4. Bagaimana rubrik diterapkan

Yang boleh berbeda:

  • gaya komunikasi;
  • contoh yang digunakan;
  • urutan pertanyaan;
  • solusi metodologis yang masih dapat dipertanggungjawabkan.

Dua mata kuliah, satu learning journey

EpidPK 1 EpidPK 2
Fokus Epidemiologic & evidence reasoning Research design mindset
Sifat aktivitas Konseptual–analitik Integratif–aplikatif
Evidence utama Individual Kelompok → individual
Peran mentor Assessor/facilitator Mentor/scaffolder → assessor

Asesmen yang perlu kita sepakati

EpidPK 1

  • MCQ 1
  • MCQ 2
  • Data Analysis Individu
  • Critical Appraisal Individu

EpidPK 2

  • Mini Proposal Kelompok
  • Rencana Penelitian Individu

Learning progression

Melihat fenomena

Mengukurnya

Menilai evidence

Mengidentifikasi gap

Merumuskan pertanyaan

Merancang cara menjawabnya

Menentukan batas kesimpulan

Prinsip pedagogis bersama

Mentoring kita berdiri di atas lima prinsip:

  1. Constructive alignment
  2. Scaffolding
  3. Cognitive apprenticeship
  4. Formative feedback
  5. Self-regulated learning

Biggs & Tang; Wood, Bruner & Ross; Collins, Brown & Newman; Hattie & Timperley; Nicol & Macfarlane-Dick.

Prinsip terpenting: alignment

Fenomena → Problem → Evidence → Gap → RQ → Design → Data → Analysis → Conclusion

Mentor tidak terutama mencari apakah setiap komponen secara terpisah terlihat benar.

Mentor mencari:

Apakah setiap keputusan merupakan konsekuensi logis dari keputusan sebelumnya?

Mentor ≠ co-author

Mentor boleh:

  • menunjukkan mismatch;
  • mengklarifikasi konsep;
  • membandingkan alternatif;
  • memodelkan reasoning pada kasus lain;
  • mengarahkan ke sumber belajar.

Mentor tidak seharusnya:

  • memberikan judul;
  • menulis RQ;
  • memilih desain atas nama mahasiswa;
  • menyusun analisis;
  • mengedit produk sampai menjadi karya mentor.

Prinsip intervensi

Level Bentuk Kapan digunakan
1 Observation Mahasiswa mampu mandiri
2 Prompting Ada bagian yang perlu diperiksa
3 Conceptual cue Ada miskonsepsi ringan
4 Modeling Reasoning belum pernah dikuasai
5 Direct correction Miskonsepsi fundamental menetap

Mulai dari intervensi paling ringan yang masih efektif.

BAGIAN I

Mentoring Mini Proposal Kelompok

Minggu 3–13

Fungsi Mini Proposal Kelompok

Mini Proposal bukan tujuan akhir.

Fungsinya adalah scaffolding kolaboratif untuk melatih:

  • problem sensing;
  • evidence seeking;
  • argumentasi ilmiah;
  • pengambilan keputusan metodologis;
  • alignment;
  • shared understanding.

Fase mentoring Mini Proposal

Fase Minggu Fokus
Fenomena 3–5 Phenomenon → Problem
Evidence 6–7 Evidence → Gap
Pertanyaan 8–9 Gap → RQ → Approach
Metode 10–12 Design → Population → Data
Integrasi 13 Analysis → Mini Proposal Final

Minggu 3–5: dari fenomena menjadi problem

M3 — Phenomenon Pool

Setiap anggota membawa 10 fenomena; kelompok mengelompokkan dan menyeleksi.

M4 — Deskripsi Fenomena

Person–place–time, konteks, kebutuhan informasi.

M5 — Problem Statement

Mengubah fenomena menjadi masalah yang memerlukan jawaban ilmiah.

Checkpoint mentor: mahasiswa belum perlu “punya judul penelitian yang bagus”.

Minggu 6–7: dari evidence menjadi gap

M6 — Evidence Map

Apa yang sudah diketahui? Dalam populasi/konteks apa?

M7 — Research Gap

Apa yang belum diketahui, belum konsisten, atau belum cukup dijelaskan?

Waspadai pseudo-gap

“Belum pernah diteliti di Lombok.”

Belum otomatis merupakan gap tanpa alasan ilmiah mengapa konteks tersebut penting.

Minggu 8–9: dari gap menjadi RQ

M8 — Alternatif Research Question

Kelompok menghasilkan beberapa RQ yang mungkin.

M9 — RQ Final + Approach

Memilih RQ dan menentukan kuantitatif, kualitatif, atau mixed methods.

Pendekatan mengikuti jenis pertanyaan dan jenis data yang diperlukan, bukan preferensi mentor.

Minggu 10–12: membangun metode

M10 — Design + Justification

RQ → jenis informasi → struktur data → desain

M11 — Population/Sampling

Siapa yang ingin dijelaskan? Dari siapa data diperoleh?

M12 — Variables/Constructs/Data

Data apa yang dibutuhkan dan bagaimana memperolehnya?

Minggu 13: final alignment review

Mentor meninjau rantai:

Phenomenon → Problem → Evidence → Gap → RQ → Design → Population → Data → Analysis

Tambahkan:

  • feasibility;
  • etika;
  • keterbatasan;
  • batas inferensi.

Output: Mini Proposal Kelompok Final

Apa yang harus tercapai pada akhir Mini Proposal?

Kelompok harus dapat menjelaskan:

Kami melihat fenomena…

Evidence menunjukkan…

Yang belum diketahui adalah…

Karena itu RQ kami…

Untuk menjawabnya kami memilih…

Data yang kami perlukan…

Dengan rancangan ini kami dapat menyimpulkan…, tetapi tidak…

Peer contribution: apa yang dinilai?

Peer assessment memoderasi kontribusi individual.

Domain:

  • kontribusi substantif;
  • penyelesaian tanggung jawab;
  • partisipasi diskusi;
  • kerja sama;
  • kontribusi revisi;
  • integritas dan akuntabilitas.

Peer assessment menilai kontribusi, bukan popularitas atau kepribadian.

BAGIAN II

Mentoring Rencana Penelitian Individu

Minggu 14–17

Rencana Penelitian Individu ≠ proposal

Mahasiswa tidak diminta membuat:

  • Bab I;
  • Bab II;
  • Bab III;
  • proposal skripsi mini.

Yang dihasilkan adalah Research Alignment Plan.

Research mindset > proposal-writing skill

Format Research Alignment Plan

Komponen Rencana Alasan / Alignment
Fenomena
Problem
Evidence & Gap
RQ & Tujuan
Approach & Design
Population/Data
Analysis
Validity/Limitations
Batas Kesimpulan

Kolom Alasan/Alignment adalah inti asesmen.

Minggu 14: Problem–Gap–RQ Alignment

Mahasiswa menyusun secara individual:

  • fenomena;
  • problem;
  • evidence;
  • gap;
  • RQ;
  • tujuan;
  • kerangka berpikir awal.

Checkpoint mentor

Fenomena → Problem → Evidence → Gap → RQ → Tujuan

Minggu 15: Method Alignment

Mahasiswa menentukan:

  • approach;
  • design;
  • population/sample/informants;
  • variables/constructs;
  • data;
  • data collection.

Checkpoint mentor

RQ → Approach → Design → Population → Data

Minggu 16: Analysis–Validity Alignment

Mahasiswa menyusun:

  • analysis plan;
  • bias utama;
  • confounding bila relevan;
  • feasibility;
  • ethics;
  • limitations;
  • batas kesimpulan.

Checkpoint mentor

RQ → Data → Analysis → Interpretation

Minggu 17: Final Alignment + Defense

Pada fase ini dukungan mentor minimal.

Yang dinilai:

  • ownership;
  • coherence;
  • justification;
  • awareness of limitations;
  • respons terhadap kritik.

“Saya perlu merevisi keputusan tersebut karena…”

adalah respons ilmiah yang valid.

Fading support

Minggu Dukungan mentor
13 Sedang
14 Sedang–rendah
15 Rendah
16 Minimal

Jika pada Minggu 17 mentor masih banyak menentukan keputusan, maka individual accountability belum tercapai.

BAGIAN III

Menilai Data Analysis Individu

Data Analysis: apa yang sebenarnya dinilai?

Bukan sekadar matematika.

Question → Data Structure → Measure/Analysis → Calculation → Interpretation → Conclusion

Mahasiswa harus mampu mengubah data menjadi informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Domain penilaian Data Analysis

Domain Bobot
Identifikasi struktur data 10%
Pemilihan ukuran/analisis 20%
Ketepatan perhitungan 20%
Interpretasi hasil 25%
Hubungan dengan pertanyaan 15%
Batas kesimpulan 10%

Bedakan error mekanik vs konseptual

Error mekanik

Formula benar, aritmetika salah.

→ penalti terutama pada perhitungan.

Error konseptual

Salah denominator, salah ukuran, salah memahami risk set.

→ penalti pada pemilihan analisis + perhitungan + interpretasi bila terdampak.

Correct number ≠ correct analysis

Interpretasi harus diberi bobot besar

Kurang:

RR = 2,4.

Lebih baik:

Kelompok terpapar mempunyai risiko outcome sekitar 2,4 kali kelompok tidak terpapar selama periode pengamatan.

Lalu:

Apakah desain memungkinkan kita menyebut ini kausal?

BAGIAN IV

Menilai Critical Appraisal Individu

Critical Appraisal: tiga pertanyaan utama

  1. Apakah penelitian ini dapat dipercaya?
  2. Apa sebenarnya yang ditunjukkan hasilnya?
  3. Sejauh mana hasil dapat diterapkan?

Bukan:

“Berapa banyak kekurangan artikel yang berhasil ditemukan mahasiswa?”

Urutan appraisal

Research Question → Design → Validity → Results → Interpretation → Applicability

Critical appraisal adalah argumen, bukan checklist yang terpisah-pisah.

Domain penilaian Critical Appraisal

Domain Bobot
RQ & desain 10%
Kesesuaian desain 10%
Validitas & bias 20%
Confounding/effect modification 10%
Hasil & presisi 20%
Kesimpulan vs evidence 15%
Applicability 10%
Koherensi argumentasi 5%

Jangan menghargai “bias hunting”

Jawaban lemah:

“Ada selection bias, information bias, recall bias, confounding…”

Tanpa penjelasan.

Jawaban kuat:

Mengidentifikasi satu bias penting, menjelaskan sumbernya, arah potensial distorsi, dan konsekuensi terhadap kesimpulan.

Interpretasi hasil: jangan berhenti pada p-value

Mahasiswa perlu melihat:

  • effect estimate;
  • arah efek;
  • besaran efek;
  • confidence interval;
  • precision/uncertainty;
  • relevansi klinis/epidemiologis;
  • kemampuan desain mendukung inferensi.

Apa yang kita cari dari appraisal?

Mahasiswa mampu berkata:

Saya percaya bagian ini karena…

Saya berhati-hati terhadap bagian ini karena…

Hasil sebenarnya menunjukkan…

Kesimpulan penulis terlalu kuat / sesuai karena…

Dalam konteks tertentu hasil ini dapat / belum dapat diterapkan karena…

BAGIAN V

Feedback dan Kalibrasi Penilai

Feedback yang baik

Gunakan empat langkah:

  1. Identify — tunjukkan titik masalah
  2. Explain — mengapa itu penting
  3. Action — apa yang perlu dipertimbangkan ulang
  4. Verify — apakah revisi benar-benar memperbaiki reasoning

Hattie & Timperley; Nicol & Macfarlane-Dick.

Hindari feedback seperti ini

“Salah.”

“Desainnya kurang tepat.”

“Perbaiki metodologi.”

Lebih baik:

“RQ menanyakan perubahan dari waktu ke waktu, tetapi data direncanakan hanya diukur sekali. Periksa kembali apakah desain dapat menghasilkan informasi yang dibutuhkan.”

Mengapa kalibrasi diperlukan?

Dua mentor dapat membaca jawaban yang sama dan memberikan skor berbeda karena:

  • severity berbeda;
  • interpretasi descriptor berbeda;
  • preferensi metodologis personal;
  • halo effect;
  • panjang jawaban memengaruhi impresi.

Rubrik tidak otomatis menghilangkan rater variability.

Prosedur kalibrasi sebelum penilaian

  1. Semua mentor membaca rubrik.
  2. Nilai 2–3 anchor responses secara independen.
  3. Bandingkan skor per domain.
  4. Bahas perbedaan >1 level.
  5. Sepakati ciri minimal Level 2, 3, dan 4.
  6. Baru mulai penilaian cohort.

Anchor response

Gunakan contoh performa:

  • Level 4 — reasoning kuat dan aligned
  • Level 3 — kompeten dengan kekurangan minor
  • Level 2 — sebagian kompeten; ada gap bermakna
  • Level 1 — belum menunjukkan kompetensi

Anchor bukan “jawaban baku”; anchor adalah referensi tingkat kualitas reasoning.

Ketika dua mentor berbeda pendapat

Kembali ke tiga hal:

  1. indikator;
  2. descriptor rubrik;
  3. evidence dalam jawaban mahasiswa.

Bukan:

“Kalau saya, seharusnya begini…”

Integritas akademik dan AI

Yang harus dipastikan:

  • referensi dapat diverifikasi;
  • tidak ada referensi fiktif;
  • mahasiswa memahami apa yang ditulis;
  • AI tidak menggantikan reasoning;
  • mahasiswa dapat mempertanggungjawabkan keputusan.

Ownership test

“Mengapa Anda memilih keputusan ini?”

Red flags yang perlu eskalasi

  • karya individual identik secara tidak wajar;
  • referensi fiktif;
  • plagiarism;
  • mahasiswa tidak memahami isi yang diserahkan;
  • kontribusi kelompok sangat timpang;
  • konflik kelompok persisten;
  • mentor menemukan kebijakan yang belum jelas.

Kesepakatan kita sebagai mentor

Kita tidak menyamakan jawaban.

Kita menyamakan standar reasoning.

Alignment — Ownership — Evidence — Proportional Interpretation

Empat pertanyaan sebelum memberi skor

  1. Apa evidence kemampuan mahasiswa dalam jawaban ini?
  2. Apakah reasoning-nya aligned?
  3. Apakah kesimpulan proporsional terhadap evidence?
  4. Descriptor rubrik mana yang paling sesuai?

Take-home message

Mentor yang baik bukan mentor yang menghasilkan pekerjaan mahasiswa paling sempurna.

Mentor yang baik membantu mahasiswa menjadi semakin mampu berpikir, mengambil keputusan, dan mempertanggungjawabkannya sendiri.

Referensi utama

  1. Biggs J, Tang C. Teaching for Quality Learning at University. 4th ed. Open University Press; 2011.
  2. Wood D, Bruner JS, Ross G. The role of tutoring in problem solving. J Child Psychol Psychiatry. 1976;17:89–100.
  3. Collins A, Brown JS, Newman SE. Cognitive apprenticeship. In: Resnick LB, ed. Knowing, Learning, and Instruction. 1989.
  4. Hattie J, Timperley H. The power of feedback. Rev Educ Res. 2007;77:81–112.
  5. Nicol DJ, Macfarlane-Dick D. Formative assessment and self-regulated learning. Stud High Educ. 2006;31:199–218.
  6. Topping K. Peer assessment between students in colleges and universities. Rev Educ Res. 1998;68:249–276.
  7. Prince MJ, Felder RM. Inductive teaching and learning methods. J Eng Educ. 2006;95:123–138.
  8. Healey M, Jenkins A. Developing Undergraduate Research and Inquiry. Higher Education Academy; 2009.

Diskusi Kalibrasi

Mari kita coba satu contoh jawaban mahasiswa

Nilai secara individual → bandingkan → jelaskan evidence → sepakati standar