Aspek Perencanaan dalam Pendidikan Klinis

Pendahuluan

Setelah melewati tahap profesi, lulusan diharapkan dapat memasuki dunia kerja dengan keterampilan profesional yang dapat diterapkan pada layanan kesehatan

Belajar di tempat kerja

Calon dokter akan lebih mudah memaknai apa yang harus ia pelajari dan kuasai saat ia memperoleh pengalaman ikut bekerja di tempat dokter bekerja

Pengalaman klinis

  • Sebagai dodiknis kita mempersiapkan pengalaman klinis agar berdampak positif

  • Caranya dengan membuat PERENCANAAN

Mengapa perlu perencanaan?

Perencanaan pembelajaran klinis yang baik yang diikuti dengan implementasi yang sistematis akan menghasilkan capaian yang lebih baik.

Apa itu perencanaan dalam pendidikan klinis?

  • Proses berpikir yang mendahului implementasi pembelajaran (Bingawi dan Alghamdi 2020)
  • Didokumentasi sebagai rencana pembelajaran untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam batas sumber daya yang tersedia

Perencanaan merupakan bagian dari siklus mutu

Mari mulai merencanakan

  1. Siklus experiential learning
  2. Capaian pembelajaran klinis
  3. Identifikasi komponen
  4. Dokumentasi dan diseminasi rencana pembelajaran

Siklus Experiential Learning

  • Experiencing
  • Reflecting
  • Thinking
  • Acting

Mulai dari mana?

  • Bisa dimulai dari titik mana pun di siklus tersebut

Experiencing

  • Concrete experience atau Experiencing
  • Proses belajar dimulai saat mahasiswa menggunakan indera dan persepsinya untuk terlibat dalam suatu tindakan.

Reflecting

  • Reflective observation atau Reflecting
  • Proses belajar dimulai setelah melihat suatu tindakan. Mahasiswa merefleksi tentang apa yang terjadi dan menghubungkan perasaan dengan pendapat tentang pengalaman tersebut.

Thinking

  • Abstract conceptualisation atau Thinking
  • Proses belajar dimulai dengan membayangkan dirinya melakukan tindakan dan memikirkan langkah-langkah teknis yang harus ia lakukan.
  • Membuat “teori” tentang cara melakukan tindakan

Acting

  • Active experimentation atau Acting
  • Proses belajar dimulai saat mahasiswa menguji “teori”-nya dan mencoba melakukan untuk mendapat umpan balik dan membuat pengalaman berikutnya.

Capaian Pembelajaran

  • Who will do how much of what by when

  • By when who will do how much of what

  • By the end of program, A (audience/who) - B (behavior) - C (condition) - D (degree/how much)

Contoh capaian mengikuti prinsip ABCD:

  • Setelah mengikuti rotasi IPD, mahasiswa mampu melakukan pengambilan sampel darah vena pada pasien dewasa stabil dengan mengikuti kaidah universal precaution.

Entrustable Professional Activity

Aktivitas klinis yang didelegasikan untuk dikerjakan mahasiswa sesuai tingkat kemampuan

Contoh: (Encandela dkk. 2023)

Level Entrustable Professional Activity

  1. Tidak diperkenankan melakukan EPA

  2. Diperkenankan melakukan EPA di bawah supervisi penuh proaktif

  3. Diperkenankan melakukan EPA dengan supervisi reaktif

  4. Diperkenankan melakukan EPA tanpa supervisi langsung

  5. Diperkenankan melakukan supervisi mahasiswa lain atau anggota tim yang lebih yunior melakukan EPA

Teknis Pelaksanaan

  1. Observasi saja, tanpa eksekusi

  2. Eksekusi dengan supervisi langsung dan proaktif

  3. Eksekusi dengan supervisi reaktif, misalnya bila ditanya saja

  4. Supervisi dari jauh dan/atau post hoc

  5. Supervisi mahasiswa lain atau anggota tim yang lebih yunior melakukan EPA

Entrustment and Supervision Scales

Dam dkk. (2021)

Identifikasi Komponen

Perencanaan pembelajaran klinis harus mempertimbangkan karakteristik komponen di dalamnya

Dodiknis

Mahasiswa

  • Perlu dipelajari karakteristik mahasiswa
    • Dokter muda
    • Residen
  • Residen dapat memerankan diri sebagai pendidik klinis setelah dilatih

Lingkungan Belajar

Berikut ini lingkungan belajar yang akan mempengaruhi belajar mahasiswa (Gruppen dkk. 2018)

Pasien

  • Perlu dilibatkan aktif sebagai bagian dari aktivitas pembelajaran, bukan sekedar objek
  • Perlu dicatat pasien-pasien stabil atau kontrol rutin

Dokumentasi

  • Rencana dituangkan dalam dokumen rencana pembelajaran
  • Dokumen didiseminasikan ke semua komponen

Perencanaan Pendidikan Klinis Berdasarkan Setting Kerja

  • Rawat Jalan

  • Rawat Inap

  • IGD

  • Ruang Tindakan

  • Ruang Operasi

Tujuan Pembelajaran

Setelah sesi ini peserta mampu:

  • Menentukan metode teaching sesuai setting klinis

  • Merancang sesi OMP/BST/Procedural teaching sederhana

  • Mengintegrasikan mentoring dalam layanan klinis

  • Mengembangkan dokumentasi pendidikan klinis

Prinsip Dasar

Pendidikan klinis terjadi di tempat kerja nyata

Setiap setting memiliki:

  • ritme kerja berbeda

  • tekanan berbeda

  • peluang belajar berbeda

Penting

Teaching efektif harus menyesuaikan konteks klinis.

Kesalahan Umum

Kesalahan Dampak
Mengajar terlalu lama di tengah pelayanan Mengganggu pelayanan klinis
Memberi jawaban terlalu cepat Mahasiswa pasif
Feedback generik (“bagus”) Tidak actionable
Procedural teaching tanpa feedback Menjadi sekadar checklist

Metode Inti Pendidikan Klinis

One-Minute Preceptor (OMP)

  • Teaching singkat berbasis kasus
  • Fokus pada clinical reasoning
  • Cocok di poliklinik dan IGD

Bedside Teaching (BST)

  • Pasien sebagai pusat pembelajaran
  • Fokus anamnesis dan pemeriksaan fisik
  • Cocok di rawat inap

Procedural Teaching

  • Demonstrasi prosedur
  • Guided practice
  • Feedback segera
  • Cocok di ruang tindakan dan operasi

Mentoring Klinis

  • Pengembangan profesional
  • Refleksi dan resiliensi
  • Hubungan longitudinal

IGD

Karakteristik

  • Tekanan waktu tinggi
  • Kasus tidak terduga
  • Prioritas keselamatan pasien

Metode cocok

  • Rapid Debrief
  • Procedural supervision

Pembelajaran Prosedural

Prinsip Utama

  • demonstrasi terlebih dahulu
  • supervised practice
  • feedback segera
  • fokus keselamatan pasien
  • latihan berulang

Procedural Teaching Efektif Bila

  • prosedur terjadwal
  • tujuan jelas
  • supervisor aktif memberi coaching
  • mahasiswa sudah memahami dasar teori

Ruang Tindakan

Karakteristik

  • Prosedur terjadwal
  • Lingkungan lebih stabil
  • Ideal untuk procedural teaching

Metode utama

  • Procedural teaching
  • Coaching teknis

Ruang Operasi

Karakteristik

  • Hierarki kuat
  • Prosedur panjang
  • Fokus keselamatan tinggi

Metode utama

  • Procedural teaching
  • Coaching intraoperatif
  • Mentoring karir

Strategi Teaching di OK

Pre-Op Briefing

  • review anatomi
  • tujuan belajar
  • pembagian peran

Intra-Op Teaching

  • think aloud
  • guided hands
  • pertanyaan singkat

Post-Op Debrief

  • refleksi kasus
  • evaluasi teknik
  • diskusi keputusan intraoperatif
  • target latihan berikutnya

Think Aloud

Supervisor memverbalisasi proses berpikir selama operasi.

Contoh:

  • “Saya pilih bidang diseksi ini karena…”
  • “Perdarahan ini kemungkinan dari…”
  • “Saya hindari area ini untuk mencegah cedera…”

Tujuan:

  • membuka clinical reasoning operator
  • memperlihatkan pengambilan keputusan real-time
  • membantu mahasiswa memahami strategi operasi

Guided Hands

Supervisor membimbing gerakan tangan mahasiswa secara langsung.

Contoh:

  • posisi instrumen
  • arah tarikan jaringan
  • sudut jahitan
  • tekanan tangan

Prinsip utama:

  • dilakukan perlahan
  • fokus pada satu keterampilan kecil
  • supervisor tetap mengontrol keselamatan pasien

Matriks Setting dan Metode

Setting OMP BST Procedural Teaching Mentoring
Poliklinik Utama Terbatas - Ada
Rawat Inap Ada Utama Ada Kuat
IGD Utama Jarang Ada Singkat
R. Tindakan Sedikit Ada Utama Ada
OK - Sedikit Utama Kuat

Tantangan Umum

Tantangan Solusi
Waktu singkat OMP singkat
Mahasiswa pasif Pertanyaan terbuka
Teaching prosedural terasa menegangkan Fokus coaching dan keselamatan
Sulit mentoring Jadwalkan khusus

Langkah Selanjutnya

  • Mulai dari satu setting

  • Terapkan satu metode dulu

  • Jadwalkan lainnya setelahnya

  • Bangun mentoring longitudinal

Hidden Curriculum Sangat Kuat

Mahasiswa belajar dari:

  • cara berbicara

  • cara memberi feedback

  • cara memperlakukan pasien

  • cara menghadapi kesalahan

Terima kasih

Pendidikan klinis terbaik terjadi di tempat kerja nyata

Daftar Pustaka

Bingawi, Haitham Mohamed El, dan Ali Alghamdi. 2020. “Clinical Teaching: Sixty Tips for Successful Implementation.” Sudan Journal of Medical Sciences (SJMS), September 30, 313–23. https://doi.org/10.18502/sjms.v15i3.6964.
Dam, Marjel van, Subha Ramani, dan Olle ten Cate. 2021. “An EPA for better Bedside Teaching.” The Clinical Teacher 18 (4): 398–403. https://doi.org/10.1111/tct.13346.
Encandela, John A., Lynn Shaull, Amy Jayas, dkk. 2023. “Entrustable professional activities as a training and assessment framework in undergraduate medical education: A case study of a multi-institutional pilot.” Medical Education Online 28 (1): 2175405. https://doi.org/10.1080/10872981.2023.2175405.
Gruppen, Larry, David M. Irby, Steven J. Durning, dan Lauren A. Maggio. 2018. “Interventions Designed to Improve the Learning Environment in the Health Professions: A Scoping Review.” MedEdPublish 7 (September): 211. https://doi.org/10.15694/mep.2018.0000211.1.