Dari fenomena kesehatan menuju pertanyaan penelitian yang dapat diuji
2026-09-18
Pada pertemuan sebelumnya kita bertanya:
Seberapa sering masalah kesehatan terjadi dan seberapa besar bebannya?
Sekarang pertanyaannya berubah:
Mengapa masalah itu terjadi, dengan apa ia berhubungan, dan apakah hubungan tersebut mungkin kausal?
Fenomena
↓
Person–Place–Time
↓
Frekuensi & beban
↓
Determinan
↓
Asosiasi
↓
Causal reasoning
Setelah sesi ini, mahasiswa diharapkan mampu:
Fenomena kelompok mahasiswa
Di sebuah kelurahan, mahasiswa menemukan bahwa keluhan batuk berulang tampak lebih sering pada keluarga yang memiliki anggota rumah tangga yang merokok di dalam rumah.
Apa yang sudah dapat kita katakan?
Berapa proporsi anggota keluarga yang mengalami batuk berulang?
Apakah anggota keluarga yang terpajan asap rokok di dalam rumah lebih sering mengalami batuk berulang dibandingkan mereka yang tidak terpajan?
Apakah mengurangi pajanan asap rokok di dalam rumah akan mengurangi kejadian batuk berulang?
Determinan kesehatan adalah faktor yang berkontribusi terhadap distribusi keadaan atau kejadian kesehatan dalam populasi.
Determinan dapat berada pada berbagai tingkat:
| Tingkat | Contoh |
|---|---|
| Biologis | usia, genetik, imunitas |
| Perilaku | merokok, aktivitas fisik, pola makan |
| Lingkungan fisik | polusi, air bersih, hunian |
| Sosial | pendidikan, pekerjaan, pendapatan |
| Pelayanan kesehatan | akses, mutu, kontinuitas layanan |
| Struktural | kebijakan, distribusi sumber daya, kondisi sosial-ekonomi |
Pertanyaan yang lebih berguna:
Bagaimana faktor tersebut dapat menghasilkan perbedaan outcome pada populasi?
Contoh: hipertensi
Tugas epidemiologi bukan hanya menemukan faktor, tetapi memahami hubungan antar-faktor.
Faktor yang sedang ditelaah hubungannya dengan outcome.
Contoh:
Keadaan atau kejadian kesehatan yang ingin dijelaskan.
Contoh:
Exposure tidak harus berbahaya. Vaksinasi, aktivitas fisik, dan terapi juga dapat menjadi exposure.
Dalam satu penelitian:
Obesitas → hipertensi
Obesitas = exposure
Hipertensi = outcome
Dalam penelitian lain:
Pola makan → obesitas
Pola makan = exposure
Obesitas = outcome
Tip
Peran suatu variabel ditentukan oleh pertanyaan kausal yang sedang diajukan, bukan oleh nama variabel itu sendiri.
Sebuah kelompok ingin meneliti:
Apakah kebiasaan sarapan berhubungan dengan konsentrasi belajar mahasiswa?
Identifikasi:
Contoh: durasi tidur, beban belajar, konsumsi kafein, kondisi psikologis, status gizi, waktu kuliah.
Kita membandingkan frekuensi outcome pada dua kelompok.
\[ \text{Frekuensi outcome}_{E+} \]
\[ \text{Frekuensi outcome}_{E-} \]
Dua keluarga besar ukuran asosiasi:
| Outcome + | Outcome − | Total | |
|---|---|---|---|
| Exposure + | \(a\) | \(b\) | \(a+b\) |
| Exposure − | \(c\) | \(d\) | \(c+d\) |
Jika kita dapat mengukur risk:
\[ Risk_{E+}=\frac{a}{a+b} \]
\[ Risk_{E-}=\frac{c}{c+d} \]
Dari sini kita dapat membandingkan kedua kelompok.
Selama satu tahun, 1.000 orang diikuti:
| ISPA + | ISPA − | Total | |
|---|---|---|---|
| Merokok | 120 | 280 | 400 |
| Tidak merokok | 90 | 510 | 600 |
Risk pada perokok:
\[ \frac{120}{400}=0{,}30=30\% \]
Risk pada non-perokok:
\[ \frac{90}{600}=0{,}15=15\% \]
Apa yang dapat kita lakukan dengan dua angka ini?
\[ RR=\frac{Risk_{E+}}{Risk_{E-}} \]
\[ RR=\frac{0{,}30}{0{,}15}=2{,}0 \]
Dalam populasi dan periode pengamatan ini, risk ISPA pada kelompok perokok adalah 2 kali risk pada kelompok non-perokok.
Peringatan
RR = 2 tidak berarti bahwa 2 kali lebih banyak seluruh kasus ISPA “disebabkan” oleh merokok.
| Nilai ratio | Makna dasar |
|---|---|
| 1 | frekuensi sama pada kedua kelompok |
| > 1 | outcome lebih sering pada kelompok terpajan |
| < 1 | outcome lebih jarang pada kelompok terpajan |
Contoh:
Arah asosiasi belum membuktikan arah kausalitas.
\[ RD=Risk_{E+}-Risk_{E-} \]
Pada contoh sebelumnya:
\[ RD=0{,}30-0{,}15=0{,}15 \]
Terdapat 15 kasus tambahan per 100 orang selama periode pengamatan pada kelompok perokok dibandingkan kelompok non-perokok.
RR menjawab: seberapa kuat secara relatif?
RD menjawab: seberapa besar perbedaan absolut?
Bandingkan dua situasi:
| Situasi | Risk E+ | Risk E− | RR | RD |
|---|---|---|---|---|
| A | 2% | 1% | 2,0 | 1% |
| B | 40% | 20% | 2,0 | 20% |
Keduanya memiliki RR = 2, tetapi dampak absolutnya sangat berbeda.
Tip
Untuk memahami implikasi klinis atau kesehatan masyarakat, lihat ukuran relatif dan absolut bersama-sama.
Pada studi cross-sectional, kita sering membandingkan prevalensi:
\[ PR=\frac{Prevalence_{E+}}{Prevalence_{E-}} \]
Contoh:
\[ PR=\frac{0{,}36}{0{,}24}=1{,}5 \]
Prevalensi nyeri punggung pada kelompok terpajan adalah 1,5 kali prevalensi pada kelompok pembanding.
Perhatikan: prevalence bukan incidence.
Odds outcome pada kelompok terpajan:
\[ Odds_{E+}=\frac{a}{b} \]
Odds outcome pada kelompok tidak terpajan:
\[ Odds_{E-}=\frac{c}{d} \]
Sehingga:
\[ OR=\frac{a/b}{c/d}=\frac{ad}{bc} \]
OR sangat penting pada case-control study, karena risk/insidens umumnya tidak dapat dihitung langsung dari sampel kasus-kontrol.
Jika risk = 20%:
\[ Risk=\frac{20}{100}=0{,}20 \]
Tetapi odds:
\[ Odds=\frac{20}{80}=0{,}25 \]
Jika risk = 80%:
\[ Risk=0{,}80 \]
\[ Odds=\frac{80}{20}=4 \]
Peringatan
OR dan RR bukan sinonim. OR dapat mendekati RR ketika outcome relatif jarang, tetapi perbedaannya membesar ketika outcome umum.
Jika waktu observasi setiap individu berbeda, kita dapat menggunakan incidence rate:
\[ IR=\frac{\text{jumlah kejadian baru}}{\text{total person-time}} \]
Kemudian:
\[ IRR=\frac{IR_{E+}}{IR_{E-}} \]
Contoh satuan:
8,2 kasus per 1.000 person-years
Person-time berguna ketika peserta:
| Situasi | Ukuran yang lazim |
|---|---|
| Cohort dengan cumulative incidence | Risk Ratio, Risk Difference |
| Follow-up berbasis person-time | Incidence Rate Ratio |
| Case-control | Odds Ratio |
| Cross-sectional | Prevalence Ratio; kadang Prevalence OR |
| Trial | RR, RD, ARR, NNT sesuai tujuan |
Catatan
Desain penelitian menentukan apa yang dapat dihitung secara valid. Jangan memilih OR hanya karena software mengeluarkannya secara otomatis.
Pada kelompok dengan paparan A, 24 dari 120 orang mengalami outcome.
Pada kelompok tanpa paparan A, 10 dari 100 orang mengalami outcome.
Hitung:
Jawaban: 20%; 10%; RR = 2,0; RD = 10 percentage points.
Temuan asosiasi dapat muncul karena:
Sebelum berkata “X menyebabkan Y”, kita perlu mempertimbangkan penjelasan alternatif.
Sampel hanyalah sebagian dari populasi.
Karena proses sampling, suatu asosiasi dapat tampak:
dibandingkan nilai sebenarnya di populasi.
Kita menggunakan confidence interval dan inferensi statistik untuk menilai ketidakpastian sampling.
Catatan
Statistical significance bukan sinonim dari causal importance, dan ketidak-signifikanan bukan bukti bahwa tidak ada efek.
Bias adalah kesalahan sistematis yang menghasilkan estimasi yang menyimpang dari hubungan yang ingin kita ukur.
Dua keluarga besar:
Siapa yang masuk atau tetap berada dalam penelitian berbeda secara sistematis.
Exposure, outcome, atau variabel lain diukur secara tidak akurat atau berbeda antar-kelompok.
Bias tidak diperbaiki hanya dengan menambah besar sampel.
Kita ingin mengetahui hubungan penggunaan media sosial malam hari dengan kualitas tidur mahasiswa.
Survei disebarkan hanya melalui grup daring dan dijawab terutama oleh mahasiswa yang aktif menggunakan media sosial.
Pertanyaan:
Apakah peserta yang terkumpul merepresentasikan populasi target dengan cara yang relevan terhadap hubungan exposure–outcome?
Studi case-control menanyakan riwayat konsumsi obat selama kehamilan.
Ini dapat menghasilkan recall bias.
Pertanyaan kunci:
Apakah kesalahan pengukuran berbeda menurut exposure atau outcome?
Bayangkan kita menemukan:
Minum kopi → penyakit jantung
Tetapi peminum kopi dalam populasi tersebut juga lebih sering merokok.
Merokok dapat menciptakan atau mengubah asosiasi yang teramati antara kopi dan penyakit jantung.
Sebuah variabel C berpotensi menjadi confounder bila:
Peringatan
Tidak setiap variabel yang berhubungan dengan exposure dan outcome harus “dikontrol”. Posisi variabel dalam struktur kausal penting.
Contoh:
Aktivitas fisik → penurunan berat badan → tekanan darah
Berat badan dapat menjadi mediator dari sebagian efek aktivitas fisik terhadap tekanan darah.
Jika kita mengontrol mediator, pertanyaan yang dijawab dapat berubah dari total effect menjadi efek yang tidak melalui mediator tersebut.
Misalnya efek suatu obat terhadap outcome berbeda menurut kelompok usia.
| Kelompok | RR terapi vs kontrol |
|---|---|
| Usia < 60 | 0,90 |
| Usia ≥ 60 | 0,55 |
Usia mungkin merupakan effect modifier.
Ini bukan sekadar “gangguan” yang harus dihilangkan.
Effect modification dapat menjadi temuan biologis atau klinis yang penting.
| Konsep | Pertanyaan |
|---|---|
| Confounder | Apakah variabel ini mencampur hubungan E–Y? |
| Mediator | Apakah variabel ini berada pada jalur E → Y? |
| Effect modifier | Apakah besar/arah asosiasi berbeda menurut strata variabel ini? |
Satu variabel dapat memiliki peran berbeda pada pertanyaan kausal yang berbeda.
Dalam causal reasoning modern, pertanyaan dasarnya dapat dibayangkan sebagai:
Apa yang akan terjadi pada outcome jika orang/populasi yang sama mengalami exposure, dibandingkan jika mereka tidak mengalami exposure?
Masalahnya:
Pada orang yang sama dan waktu yang sama, kita hanya dapat mengamati satu keadaan.
Inilah fundamental problem of causal inference.
Untuk individu yang terpajan:
Efek kausal individual secara konseptual:
\[ Y(1)-Y(0) \]
Tetapi kita tidak pernah dapat mengamati keduanya secara bersamaan pada individu yang sama.
Karena itu epidemiologi mencari kelompok pembanding yang dapat memperkirakan counterfactual.
Kelompok pembanding yang baik menjawab:
Apa yang kemungkinan terjadi pada kelompok terpajan seandainya mereka tidak terpajan?
Randomisasi membantu karena, secara probabilistik, kelompok menjadi lebih comparable pada baseline.
Pada studi observasional, comparability harus dibangun dan dipertahankan melalui:
Untuk hubungan kausal:
Penyebab harus mendahului akibat.
Contoh cross-sectional:
Mahasiswa yang tidur <6 jam memiliki prevalensi depresi lebih tinggi.
Kemungkinan:
atau
atau keduanya dipengaruhi faktor lain.
Cross-sectional study sering lemah untuk memastikan temporalitas.
Temuan:
Orang dengan aktivitas fisik rendah memiliki mortalitas lebih tinggi.
Kemungkinan kausal:
Tetapi mungkin pula:
Ini disebut reverse causation bila outcome/proses penyakit memengaruhi exposure yang kita ukur.
Directed Acyclic Graph (DAG) membantu menggambarkan asumsi tentang hubungan antarvariabel.
Contoh:
DAG bukan hasil analisis statistik.
DAG adalah representasi asumsi kausal yang harus didasarkan pada pengetahuan substantif.
DAG membantu kita bertanya:
Tip
Prinsip penting: lebih banyak variabel dalam model tidak selalu lebih baik.
Struktur sederhana:
C disebut collider karena dua panah bertemu pada C.
Jika kita mengondisikan/memilih berdasarkan collider, kita dapat membuka asosiasi non-kausal antara E dan Y.
Contoh konseptual:
Jika hanya menganalisis mereka yang diterima, kedua faktor dapat tampak berhubungan walaupun sebelumnya tidak.
Pertanyaan:
Apakah aktivitas fisik menurunkan tekanan darah?
Hipotesis struktur:
Diskusikan:
Kemungkinan: usia = confounder; BMI = mediator.
Ketika menemukan asosiasi, tanyakan secara berurutan:
Baru kemudian kita menilai seberapa kuat bukti mendukung interpretasi kausal.
Bradford Hill mengusulkan beberapa viewpoints/considerations untuk membantu menilai bukti kausal:
Peringatan
Kriteria ini bukan checklist yang bila 7/9 terpenuhi berarti “terbukti kausal”. Temporalitas memiliki posisi logis khusus: sebab harus mendahului akibat.
Asosiasi yang besar kadang lebih sulit dijelaskan sepenuhnya oleh confounding yang lemah.
Tetapi:
Effect size adalah bagian dari bukti, bukan stempel kausalitas.
Apakah hubungan serupa ditemukan pada:
Konsistensi dapat memperkuat keyakinan, tetapi ketidakkonsistenan juga dapat terjadi karena:
Apakah outcome berubah seiring tingkat exposure?
Contoh hipotetik:
| Paparan | Risk outcome |
|---|---|
| Tidak terpajan | 5% |
| Rendah | 8% |
| Sedang | 13% |
| Tinggi | 21% |
Pola dose–response dapat mendukung interpretasi kausal.
Namun hubungan biologis tidak selalu linear atau monotonic.
Apakah hubungan:
Tetapi pengetahuan biologis kita selalu tidak lengkap.
“Belum diketahui mekanismenya” bukan alasan tunggal untuk menolak hubungan kausal.
Jika mengubah exposure menghasilkan perubahan outcome, bukti kausal dapat menjadi lebih kuat.
Contoh:
intervensi berhenti merokok → perubahan risiko penyakit
Tetapi eksperimen tidak selalu:
Karena itu banyak pertanyaan kesehatan penting tetap membutuhkan causal inference dari data observasional.
Batuk berulang tampak lebih sering pada keluarga yang memiliki anggota rumah tangga yang merokok di dalam rumah.
Kita dapat memetakan:
| Komponen | Isi awal |
|---|---|
| Outcome | batuk berulang |
| Exposure | pajanan asap rokok di rumah |
| Population | anggota rumah tangga di kelurahan X |
| Comparison | rumah tangga tanpa pajanan |
| Kandidat confounder | usia, kepadatan hunian, penggunaan bahan bakar, ventilasi, pekerjaan |
| Temporalitas | perlu dipastikan |
| Ukuran asosiasi | tergantung desain penelitian |
Urutan yang lebih baik:
Judul datang kemudian.
Problem statement yang baik menunjukkan gap pengetahuan.
Kurang kuat:
Merokok merupakan masalah kesehatan yang berbahaya dan perlu diteliti.
Lebih analitik:
Keluhan batuk berulang cukup sering ditemukan pada rumah tangga di Kelurahan X. Pajanan asap rokok di dalam rumah diduga berkontribusi, tetapi distribusi pajanan dan hubungan antara pajanan tersebut dengan batuk berulang pada populasi setempat belum diketahui.
Apakah pajanan asap rokok di dalam rumah berhubungan dengan batuk berulang pada anggota rumah tangga di Kelurahan X?
Kemudian pertajam:
Mahasiswa mengeluhkan kelelahan dan kesulitan mempertahankan kebugaran selama semester padat.
Aktivitas fisik rendah.
Apakah kurang olahraga menyebabkan kelelahan?
Apakah tingkat aktivitas fisik berhubungan dengan prevalensi kelelahan pada mahasiswa kedokteran semester X?
Lalu pikirkan: tidur? beban akademik? penyakit? asupan? kesehatan mental?
Temuan awal:
Mahasiswa dengan screen time malam yang tinggi lebih sering melaporkan kualitas tidur buruk.
Jangan langsung simpulkan:
Pertimbangkan pula:
atau
Causal reasoning dimulai sebelum analisis statistik.
Gunakan satu fenomena prioritas kelompok Anda
Dalam 20–25 menit, kembangkan fenomena tersebut menjadi kerangka analitik awal.
Lengkapi:
| Komponen | Jawaban kelompok |
|---|---|
| Fenomena | … |
| Person–Place–Time | … |
| Ukuran frekuensi/beban yang relevan | … |
| Outcome | … |
| Exposure utama | … |
| Comparison | … |
| Confounder potensial | … |
| Mediator potensial | … |
| Kemungkinan reverse causation | … |
| Ukuran asosiasi | … |
| Pertanyaan penelitian | … |
Gunakan hanya variabel yang penting.
Label:
Jangan mulai dari software. Mulai dari asumsi substantif.
Tanyakan lima hal:
Jika salah satu belum jelas, kembali satu langkah.
Sebuah survei terhadap 600 mahasiswa menemukan:
Kelompok exposure:
\[ P_{E+}=120/240=0{,}50 \]
Kelompok pembanding:
\[ P_{E-}=108/360=0{,}30 \]
\[ PR=0{,}50/0{,}30=1{,}67 \]
Prevalensi kualitas tidur buruk pada mahasiswa dengan penggunaan smartphone malam >2 jam adalah sekitar 1,67 kali prevalensi pada kelompok pembanding.
Belum cukup untuk klaim kausal.
Kemungkinan lain:
Angka asosiasi adalah awal penalaran, bukan akhir.
Sebuah cohort mencatat kejadian hipertensi:
| Hipertensi + | Hipertensi − | Total | |
|---|---|---|---|
| Aktivitas fisik rendah | 80 | 320 | 400 |
| Aktivitas fisik cukup | 60 | 540 | 600 |
Diskusikan:
\[ Risk_{low}=80/400=20\% \]
\[ Risk_{adequate}=60/600=10\% \]
\[ RR=2{,}0 \]
\[ RD=10\% \]
Interpretasi:
Kelompok dengan aktivitas fisik rendah memiliki risk hipertensi 2 kali kelompok dengan aktivitas fisik cukup, dengan perbedaan absolut 10 percentage points selama periode follow-up.
Selanjutnya: apakah perbandingannya fair?
Manakah pernyataan yang paling tepat?
A. RR > 1 membuktikan exposure menyebabkan outcome.
B. p < 0,05 membuktikan asosiasi bersifat kausal.
C. Confounder selalu merupakan variabel yang berada di antara exposure dan outcome.
D. Asosiasi teramati perlu dinilai terhadap chance, bias, confounding, dan temporalitas sebelum interpretasi kausal.
E. Semua variabel yang tersedia sebaiknya dimasukkan ke model multivariat.
Ukuran asosiasi mengukur hubungan yang teramati. Causal reasoning menilai apakah hubungan tersebut dapat ditafsirkan sebagai efek kausal.
Setiap kelompok membawa satu fenomena prioritas yang sudah dilengkapi dengan:
Tip
Target kita bukan menemukan judul yang terdengar ilmiah, tetapi membangun pertanyaan yang logis, terukur, dan dapat diuji.
Jika dua kelompok berbeda dalam outcome, apa saja yang harus benar sebelum kita berani mengatakan bahwa perbedaan exposure adalah penyebabnya?

Epidemiologi & Penelitian Kedokteran