Bedah RPS

Melakukan Evaluasi dengan Prinsip Constructive Alignment

Mohammad Rizki

FKIK Universitas Mataram

2026-07-15

ALUR WORKSHOP

  • Tahap I - Target

  • Tahap II - Asesmen

  • Tahap III - Proses

TAHAP I

1 | Isu tentang Constructive Alignment

2 | Menentukan Target

3 | Mengevaluasi Indikator di RPS

4 | Kerja Mandiri

BAGIAN 1: Isu tentang Constructive Alignment

“The problem is lack of alignment between intended learning outcomes and the means of teaching and assessing them.”

Biggs dan Tang (2011)

The Briggs’ Three Pillars of Constructive Alignment

01

TARGET

Intended Learning Outcomes (ILOs)

02

PROCESS

Teaching & Learning Activities (TLAs)

03

ASSESSMENT

Assessment Tasks (ATs)


Aha!

Berarti tugas kita adalah memastikan adanya alignment yang baik antara learning outcomes dengan the means of teaching dan the means of assessing

Tantangan di Lapangan

Masalah Utama

Dokumen kurikulum makro institusi sering kali belum lengkap atau terlalu teoretis.

Akibat di Mata Kuliah:

Target

Kesulitan menentukan target yang harus dicapai mahasiswa.

Kegiatan

Bingung kegiatan apa saja yang harus dijadwalkan.

Asesmen

Pusing dengan bagaimana ujian dan proporsi nilainya.


Rekomendasi Aksi

Melakukan constructive alignment langsung pada unit terkecil.

Pilar Bedah RPS

Mari kita pinjam tiga pilar constructive alignment tersebut untuk membedah RPS kita!

Selama workshop kita akan menyusun artefak menghubungkan ketiga pilar ini secara konsisten

Pilar Pertanyaan Kunci Artefak yang akan Kita Buat
Target Mau dibawa ke mana mahasiswa? Daftar target (Tujuan Spesifik)
Asesmen Bagaimana kita tahu mereka sudah sampai? Strategi Asesmen & Bukti
Proses Bagaimana cara membawa mereka ke sana? Skenario Aktivitas & Bahan Ajar

Proses Pendidikan

BAGIAN 2: Menentukan Target

Dari SubCPMK ke Indikator

  • Ada yang mengatakan SubCPMK harus sudah ABCD. Ada yang mengatakan SubCPMK cukup BC, Indikator yang ABCD.

  • Apapun itu, di workshop ini kita akan membuat target berformat ABCD. Di dokumen RPS, silakan disesuaikan kebutuhan institusi.

  • Prinsip yang harus kita pegang adalah bahwa target berformat ABCD ini (atau BCD, karena A-nya sama semua) menjadi pengunci alignment pembelajaran.

Rekomendasi Praktis

Komponen Tingkat spesifisitas Menggunakan ABCD?
Sub-CPMK Kemampuan yang dicapai pada akhir satu/topik pembelajaran Tidak harus; cukup A (implisit) + B yang jelas
Indikator Bukti ketercapaian Sub-CPMK Ya, sebaiknya memenuhi ABCD atau setidaknya B, C, dan D secara eksplisit
Rubrik Kriteria penilaian setiap indikator Sangat rinci, memuat deskriptor performa

Rumus ABCD

Audience

Behavior

Condition

Degree


  • A - Audience: Siapa yang belajar? (“Mahasiswa…”) - bisa kita sembunyikan karena semua audience kita Mahasiswa

  • B - Behavior: Performa nyata apa yang bisa diamati/diuji? (“Melakukan…”, “Merancang…”, “Menganalisis…”)

  • C - Condition: Konteks tempat, dokumen, atau alat bantu? (“soal bervignette…”, “selama diskusi tutorial…”)

  • D - Degree: Standar kualitas/akurasi kelulusan? (“Sesuai standar kompetensi…”, “sesuai rubrik keaktifan…”)

Tugas 1: Target

A

B

C

D

Tugas pertama kita di workshop ini adalah membuat target.

Contoh

Misalkan mata kuliah Hematologi.

Sub-CPMK

Mahasiswa mampu menginterpretasikan hasil pemeriksaan hematologi dasar untuk mendukung penegakan diagnosis.

Sub-CPMK ini sudah menggunakan kata kerja operasional (menginterpretasikan) dan menggambarkan kemampuan yang ingin dicapai, tetapi belum menyebutkan kondisi maupun standar keberhasilan.

Kemudian diturunkan menjadi beberapa indikator.

Indikator 1

Mahasiswa mampu mengidentifikasi kelainan pada parameter Hb, leukosit, dan trombosit berdasarkan hasil complete blood count (CBC) dengan ketepatan minimal 80%.

Indikator 2

Mahasiswa mampu menginterpretasikan nilai MCV, MCH, dan RDW berdasarkan data laboratorium pasien sesuai kunci jawaban.

Indikator 3

Mahasiswa mampu menyimpulkan kemungkinan diagnosis anemia berdasarkan hasil CBC dan apusan darah tepi dengan alasan yang benar.

Terlihat bahwa seluruh indikator masih berada dalam lingkup satu Sub-CPMK, tetapi masing-masing sudah sangat operasional dan siap dinilai.

Analogi

Bayangkan Sub-CPMK sebagai tujuan sebuah perjalanan.

“Mahasiswa mampu mengemudikan mobil dengan aman.”

Indikatornya kemudian menjadi bukti bahwa tujuan tersebut tercapai, misalnya:

  • Menyalakan kendaraan sesuai prosedur.

  • Memindahkan gigi dengan benar pada berbagai kondisi jalan.

  • Melakukan parkir paralel tanpa menyentuh pembatas.

  • Mematuhi rambu lalu lintas selama simulasi.

Tujuan tidak perlu memuat seluruh detail tersebut; detailnya berada pada indikator.

BAGIAN 3: Mengevaluasi Indikator di RPS

Mengisi Lembar Kerja

  1. Buka sheet yang telah disediakan

  2. Masukkan semua indikator ke dalam sheet

  3. Baca indikator dan nilailah apakah sudah memuat BCD

  4. Bila sudah, tetap gunakan indikator tersebut.

  5. Bila belum, tuliskan revisi indikator tersebut.

BAGIAN 4: Kerja Mandiri

Kerja mandiri bersama sejawat atau AI?

Silakan bekerja mandiri, Ibu dan Bapak dapat berdiskusi dengan sesama dosen, pun dapat mengajak AI untuk diskusi!

Contoh prompt: “Anda seorang dosen kedokteran yang sedang merancang modul belajar, nilailah apakah indikator capaian belajar ini telah memenuhi prinsip ABCD: …”

TAHAP II

1 | Isu tentang Bukti

2 | Menentukan Bukti

3 | Mengevaluasi Asesmen di RPS

4 | Kerja Mandiri

BAGIAN 1: Isu tentang Bukti

Mengapa mahasiswa mendapat nilai baik, tetapi belum tentu mencapai Sub-CPMK?

Pertanyaan utama dalam OBE bukan “Apa yang diajarkan?”, tetapi “Bukti apa yang menunjukkan mahasiswa telah mencapai target?”

Permasalahan yang sering ditemukan

  • Sub-CPMK sudah ditulis dengan baik.

  • Asesmen tidak benar-benar mengukur kemampuan yang ditargetkan.

  • Soal hanya mengukur hafalan, padahal targetnya analisis.

  • Tugas tidak menghasilkan bukti yang dapat digunakan untuk menyimpulkan ketercapaian.

Constructive Alignment

Target
(Sub-CPMK)
      │
      ▼
Bukti
(Asesmen)
      │
      ▼
Proses
(Pembelajaran)

Jika bukti tidak sesuai target, maka seluruh proses pembelajaran menjadi tidak selaras.

BAGIAN 2: Menentukan Bukti

Mulailah dari Target, bukan dari Jenis Asesmen

Target yang ingin dicapai Bukti yang diperlukan
Menjelaskan konsep MCQ, short answer
Menginterpretasikan data MCQ vignette, key feature
Melakukan prosedur OSCE, DOPS
Menyusun laporan Produk/laporan
Berkolaborasi Observasi, peer assessment

Prinsip sederhana

Target menentukan bukti.

Bukan:

“Karena punya MCQ, maka semua target diuji dengan MCQ.”

Tetapi:

“Karena targetnya interpretasi, maka diperlukan bukti berupa soal yang mengukur interpretasi.”

BAGIAN 3: Mengevaluasi Asesmen di RPS

Gunakan tiga pertanyaan sederhana

✅ 1. Apakah asesmen mengukur perilaku pada indikator?

Misal indikator:

Menginterpretasikan hasil CBC…

Apakah soal benar-benar meminta interpretasi?

✅ 2. Apakah bukti yang dihasilkan cukup?

Contoh:

  • 1 soal MCQ → mungkin belum cukup

  • 5–8 soal → lebih representatif

  • OSCE satu stasiun → cukup untuk satu keterampilan

✅ 3. Apakah kriteria keberhasilan sudah jelas?

Misalnya:

  • skor minimal

  • jumlah soal benar

  • checklist

  • global rating

  • rubrik

Ringkasan

Target
   │
Apakah diukur?
   │
Apakah buktinya cukup?
   │
Bagaimana menentukan berhasil?

Piramida Asesmen

Shumway dkk. (2003)

Contoh 1

Mari kita gunakan contoh sebelumnya.

Sub-CPMK

Mahasiswa mampu menginterpretasikan hasil pemeriksaan hematologi dasar untuk mendukung penegakan diagnosis.

Indikator 1

Mahasiswa mampu mengidentifikasi kelainan pada parameter Hb, leukosit, dan trombosit berdasarkan hasil CBC dengan ketepatan minimal 80%.

Kemampuan yang diukur

Mengidentifikasi (recognition/identification).

Metode asesmen yang sesuai

  • MCQ berbasis kasus

  • Short Answer Question (SAQ)

  • Quiz daring

  • Matching item

Instrumen

Misalnya MCQ.

Seorang laki-laki 45 tahun memiliki Hb 8 g/dL, leukosit 15.000/µL, trombosit 60.000/µL. Parameter manakah yang berada di bawah nilai rujukan?

Instrumen

Rubriknya sederhana:

  • Benar = 1

  • Salah = 0

Contoh 2

Indikator 2

Mahasiswa mampu menginterpretasikan nilai MCV, MCH, dan RDW berdasarkan data laboratorium pasien sesuai kunci jawaban.

Kemampuan yang diukur

Interpretasi.

Mahasiswa tidak hanya mengenali angka, tetapi memberi makna.

Metode asesmen

  • Modified Essay Question (MEQ)

  • Short Answer Question

  • Clinical Reasoning Problem

  • Key Features Problem

Instrumen

Kasus:

Hb 8 g/dL
MCV 68 fL
MCH 20 pg
RDW 19%

Pertanyaan:

Bagaimana interpretasi indeks eritrosit pasien ini?

Rubrik

Rubrik dapat berupa analitik:

Komponen Skor
Menyebut mikrositik 1
Menyebut hipokromik 1
Menjelaskan RDW meningkat 1
Menyimpulkan kemungkinan anemia defisiensi besi 2

Contoh 3

Indikator 3

Mahasiswa mampu menyimpulkan kemungkinan diagnosis anemia berdasarkan hasil CBC dan apusan darah tepi dengan alasan yang benar.

Kemampuan yang diukur

Clinical reasoning.

Ini sudah berada pada level yang lebih tinggi (analisis hingga sintesis).

Metode asesmen

  • Script Concordance Test (SCT)

  • Key Features Examination

  • Objective Structured Practical Examination (OSPE)

  • Objective Structured Clinical Examination (OSCE) bila melibatkan komunikasi atau keterampilan klinis

  • Comprehensive case discussion

Misalnya pada praktikum hematologi, OSPE sangat sesuai.

Instrumen

Station:

  • Disediakan hasil CBC.

  • Disediakan foto apusan darah.

Pertanyaan:

  1. Sebutkan diagnosis paling mungkin.

  2. Jelaskan dua temuan morfologi yang mendukung.

  3. Sebutkan penyebab yang paling mungkin.

Rubrik

Rubrik:

Kriteria Skor
Diagnosis benar 2
Morfologi pertama benar 1
Morfologi kedua benar 1
Alasan sesuai 2

Mengapa metode asesmennya berbeda?

Karena mengikuti tingkat proses kognitif yang diukur.

Kata kerja indikator Proses kognitif Metode asesmen yang umum
Mengidentifikasi Mengingat, mengenali MCQ, benar-salah, matching, SAQ sederhana
Menjelaskan Memahami SAQ, esai pendek, presentasi
Menginterpretasikan Menganalisis MEQ, Key Features, CRP, SAQ berbasis kasus
Menyimpulkan Menganalisis–mengevaluasi OSPE, SCT, Key Features, portofolio kasus
Melakukan Psikomotor OSCE, OSPE, Direct Observation, Mini-CEX
Menunjukkan sikap Afektif Observasi, penilaian sejawat, refleksi, portofolio

Prinsip umum pemilihan asesmen

Tanyakan:

“Bukti apa yang harus ditunjukkan mahasiswa agar saya yakin indikator ini telah tercapai?”

  • Jika buktinya adalah memilih jawaban yang benar dari beberapa alternatif, MCQ dapat memadai.

  • Jika buktinya adalah menjelaskan alasan diagnostik, diperlukan SAQ, MEQ, atau Key Features.

  • Jika buktinya adalah melakukan prosedur laboratorium, maka OSPE atau observasi langsung lebih tepat.

Dengan cara berpikir ini, hubungan antara indikator → metode asesmen → instrumen → rubrik menjadi konsisten dan mendukung validitas asesmen sesuai prinsip constructive alignment.

BAGIAN 4: Kerja Mandiri

Melanjutkan Lembar Kerja

  1. Buka lagi sheet yang telah dikerjakan tadi.

  2. Lihat indikator yang telah dievaluasi.

  3. Baca kriteria dan teknik penilaian, nilailah apakah sudah cukup untuk membuktikan target tercapai

  4. Bila sudah, tetap gunakan penilaian tersebut.

  5. Bila belum, tuliskan revisi penilaian.

TAHAP III - PROSES

1 | Mengapa Proses Penting

2 | Menentukan Target

3 | Mengevaluasi Indikator di RPS

4 | Kerja Mandiri

BAGIAN 1: Mengapa Proses Penting

Pertanyaan Kunci

Satu pertanyaan kunci, apakah pengalaman belajar yang dapat saya berikan agar mahasiswa dapat menunjukkan bukti saat dia saya uji menggunakan asesmen tadi?

Constructive Alignment

Target
(Sub-CPMK)
      │
      ▼
Bukti
(Asesmen)
      │
      ▼
Proses
(Pengalaman Belajar)

Prinsip

Proses pembelajaran harus memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menghasilkan bukti yang akan dinilai.

Kesalahan yang sering terjadi

❌ Target: menganalisis kasus

❌ Pembelajaran: dosen hanya ceramah

❌ Ujian: analisis kasus

Mahasiswa tidak pernah berlatih melakukan analisis sebelum diuji.

BAGIAN 2: Merancang Proses dari Bukti

Pertanyaan utama

Apa yang perlu dilakukan mahasiswa agar mampu menghasilkan bukti tersebut?

Bukti Asesmen Pengalaman Belajar yang Mendukung
MCQ interpretasi Analisis kasus, diskusi CBC
OSCE Demonstrasi → latihan → umpan balik
Laporan Praktikum → pengolahan data → review
Presentasi Diskusi kelompok → coaching → presentasi

Prinsip

Mahasiswa harus berlatih melakukan apa yang nanti akan dinilai.

BAGIAN 3: Memilih Aktivitas Belajar

Aktivitas harus sesuai dengan perilaku pada indikator

Kata kerja indikator Aktivitas belajar yang sesuai
Menjelaskan Mini lecture, concept mapping
Mengidentifikasi Latihan identifikasi gambar/data
Menginterpretasikan Case discussion
Menganalisis Problem Based Learning
Mengevaluasi Journal appraisal
Melakukan Skills lab, simulasi, OSCE practice

Hindari pola ini

Target tinggi
        ↓
Aktivitas rendah
        ↓
Asesmen tinggi

Bagian 4: Kerja Mandiri

Lengkapi Alignment RPS Anda

Target Bukti Proses
Sub-CPMK Asesmen Aktivitas belajar

Checklist

□ Apakah aktivitas membantu mahasiswa mencapai indikator?

□ Apakah mahasiswa berlatih sebelum dinilai?

□ Apakah setiap asesmen didahului aktivitas yang relevan?

□ Apakah seluruh aktivitas benar-benar mendukung pencapaian target?

Constructive Alignment dalam RPS

TARGET
(Sub-CPMK)
        │
        ▼
INDIKATOR
(ABCD)
        │
        ▼
BUKTI
(Asesmen)
        │
        ▼
PROSES
(Pengalaman Belajar)

Mulailah dari target, tentukan bukti, lalu rancang proses belajar yang memungkinkan mahasiswa menghasilkan bukti tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Biggs, John, dan Catherine Tang. 2011. Teaching For Quality Learning At University. McGraw-Hill Education (UK).
Shumway, J. M., R. M. Harden, dan Association for Medical Education in Europe. 2003. AMEE Guide No. 25: The Assessment of Learning Outcomes for the Competent and Reflective Physician.” Medical Teacher 25 (6): 569–84. https://doi.org/10.1080/0142159032000151907.