Ketika Tutorial Tidak Berjalan Seperti yang Diharapkan

Seorang dosen yang baru pertama kali menjadi tutor PBL. Ia telah membaca panduan tutorial dan memahami bahwa mahasiswa seharusnya menjadi pembelajar aktif, sementara tutor berperan sebagai fasilitator.

Pada pertemuan pertama sebuah kasus, Ia membuka diskusi dengan mengatakan:

“Baik, kita mulai. Silakan baca kasusnya, kemudian diskusikan.”


Mahasiswa mulai membaca trigger. Setelah beberapa menit, seorang mahasiswa mengatakan bahwa menurutnya diagnosis kasus tersebut adalah pneumonia. Mahasiswa lain langsung menyebutkan bakteri penyebab yang mungkin.

Dosen tersebut kemudian bertanya:

“Kalau pneumonia, apa saja gejalanya?”

Diskusi berkembang menjadi sesi tanya jawab. Beberapa mahasiswa yang tampak lebih aktif mulai menjawab pertanyaan tutor. Mahasiswa lainnya lebih banyak diam.

Karena diskusi mulai melenceng, dosen beberapa kali mengarahkan:

“Jangan ke sana dulu.” “Yang ini tidak perlu dibahas.” “Coba fokus pada diagnosis.” “Menurut saya, yang paling penting justru mekanisme penyakitnya.”

Setelah sekitar 30 menit, kelompok telah membahas cukup banyak hal. Dosen merasa diskusinya berjalan baik karena mahasiswa dapat menyebutkan berbagai konsep yang berkaitan dengan kasus.

Namun, seorang mahasiswa mengatakan:

“Dok, sebenarnya kita harus mencari tahu apa dari kasus ini?”

Mahasiswa lain menambahkan:

“Saya merasa tadi kita banyak membahas hal, tetapi belum tahu apa yang harus kami pelajari.”

Dr. Andi kemudian membantu kelompok menyusun beberapa learning issues. Karena waktu hampir habis, ia memberikan beberapa petunjuk mengenai sumber belajar yang sebaiknya digunakan.

Pada pertemuan berikutnya, hanya sebagian mahasiswa yang benar-benar mempelajari learning issues. Beberapa mahasiswa datang dengan membawa informasi yang sangat rinci, tetapi tidak semuanya relevan dengan masalah dalam kasus. Diskusi kembali didominasi oleh tiga mahasiswa.

Salah satu mahasiswa yang biasanya diam akhirnya berkata:

“Kalau akhirnya tutor juga yang menentukan apa yang harus dipelajari, sebenarnya apa bedanya dengan kuliah biasa?”

Dr. Andi mulai bertanya-tanya:

Apakah tutorial tersebut sudah dapat disebut PBL?

Di sisi lain, ia juga memiliki kekhawatiran lain. Jika tutor terlalu sedikit berbicara, apakah mahasiswa benar-benar belajar? Jika tutor tidak meluruskan pembicaraan yang salah, apakah mahasiswa tidak akan membangun pemahaman yang keliru? Dan jika tutor tidak menguasai materi kasus, bagaimana ia dapat memastikan proses belajar tetap berada pada jalur yang benar?